Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Usah dibahas jasa Pak Amien buat negeri ini tak berbilang kata: sangat besar dan banyak. Tapi saya ingin bahas dari sudut pandang berbeda.

ORDE REFORMASI adalah sistem yang paling rusak dibanding dua orde sebelumnya: Orde Lama dan Orde Baru. Mokhtar Mas’ud, kawan dekat Pak Amien dan Pak Affan Ghafar menyebut Orde Lama menjadikan politik sebagai panglima. Orde Baru menjadikan ekonomi sebagai panglima. Menurut saya Orde Reformasi menjadikan nafsu sebagai panglima.

Bagi pendukung dan pecinta Pak Amien jangan keburu marah. Atau keburu menuduh macam-macam, kebiasaan yang kurang baik. 

Jangan kawatir pula sebab saya dan keluarga adalah pendukung setia Pak Amien--saya adalah pecinta yang kritis. 

Di Padhang Makhsyar kami biasa melakukan diskusi mengambil tema yang tidak lazim, yang kurang patut atau yang tabu di-diskusikan--tapi tetap dengan hati tenang. Semua kita bincang tanpa emosi, tanpa amarah sedapat mungkin kita jaga obyektifitas dan proporsionalitas untuk menjaga kewarasan dan bening berpikir:

Pertanyaan mengemuka benarkah Pak Amien penyebab rusak?

Penyebab rusak pertama adalah Pak Amien tidak bersedia menjadi Ketua Komite Reformasi yang digagas Pak Harto awal Reformasi menjelang lengser. Konon beliau menolak ketika ‘dirayu’ beberapa tokoh Reformasi. Dengan alasan tidak konstitusional. Wapres Habibie naik menggantikan. Kemudian LPJ Pak Habibie ditolak dan dipermalukan dalam Sidang Umum MPR yang dipimpin Pak Amien. 

Penyebab rusak kedua: Pak Amien menolak dicalonkan Presiden karena sudah kadung mencalonkan Gus Dur. Lewat manuver Poros Tengah Pak Amien bermain sangat cantik--Megawati sang pemenang Pemilu keok dibuat malu tidak berdaya--Gus Dur naik jadi Presiden sebelum di-impeachment lewat kudeta lembut: Bruneigate yang tidak pernah terbukti. 

Gus Dur lengser. Megawati naik jadi Presiden setengah jalan. Akrobat politik Pak Amien cantik tapi memilukan, bukan solusi yang didapat, tapi dendam politik yang harus dibayar.

Penyebab rusak yang ketiga: Amandemen UUD 45, pintu semua petaka. Negara tanpa haluan. Presiden tanpa pertanggungjawaban. Rakyat tanpa harapan. 

Demokrasi liberal-sekuler dipraktikkan. Musyawarah mufakat amanat sila ke 4 Pancasila diabaikan. Kewenangan MPR dilucuti. One man one vote. Paham PKI yang lama dibungkam menuntut balas. Ras Chinese dan Arab makin menguat. Yang masa Pak Harto dilarang berpolitik praktis sekarang jadi tuan di rumah pribumi.

Pak Amien terus ber-akrobat politik tanpa memikirkan solusi: beliau adalah tipe political science bukan politisi. Terus ber-eksperimen: sistem politik Indonesia sebagai obyek. 

Orde Reformasi adalah Orde terburuk dari dua orde sebelumnya. Orang-orang dengan karakter lucu mengambil alih: Presiden lucu. Menteri lucu. Kepala daerah lucu. Legislatif yang lucu. Semua lucu. Rakyat tertawa sambil menangis pilu--produk Reformasi memang lucu-lucu! 

Politik kekuasaan memang punya jalannya sendiri. Hampir semua penguasa berada pada jalan yang sama:  Jalan pilu Ken Arok menuju tahta. Kuda betina penuh birahi pada pertarungan head to head antara Jaka Tingkir vs Arya Penangsang. Atau Cicero--atau tradisi membunuh saudara kandung pada khilafah Ottoman yang dibenarkan syar’i. 

Bisakah disebut kehendak sejarah? Sebagaimana peristiwa baiat Tsaqifah Bani Sa'idah, Sayyidina Ali krwjh ditinggalkan bukan karena kesengajaan tapi lebih karena udzur syar’i: jenazah nabi Saw yang belum dikuburkan menahannya untuk tidak ikut hadir dan mempengaruhi hasil musyawarah. rmol news logo article 

Nurbani Yusuf
Komunitas Padhang Makhsyar, Pusat Studi Islam dan Pemikiran Kjai Hadji Ahmad Dahlan