BANYAK pelancong merasa aman saat duduk di kursi pesawat yang tampak bersih. Namun para ahli memperingatkan bahwa alat transportasi massal itu sebenarnya adalah salah satu tempat paling kotor.
Kurangnya standar pembersihan universal membuat banyak sudut tersembunyi menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi virus dan bakteri. Hal ini diperparah dengan jadwal pergantian penerbangan yang ketat, sehingga kru pembersihan sering kali hanya memiliki waktu singkat untuk melakukan pembersihan visual tanpa disinfeksi mendalam.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Baca juga: Mengapa Wi-Fi Penerbangan Masih Perlu Mode Pesawat
Mulai dari Pemeriksaan Keamanan
Risiko pertama justru muncul sejak awal perjalanan, tepatnya saat pemeriksaan keamanan. Nampan plastik di pos keamanan sering kali jauh lebih kotor dibandingkan toilet. Sebuah studi di Bandara Helsinki menemukan bahwa separuh dari sampel nampan yang diuji membawa virus pernapasan seperti influenza A dan rhinovirus.
Ini terjadi karena ribuan tangan menyentuh nampan tersebut setiap hari, sementara toilet justru lebih sering dibersihkan secara intensif karena kesadaran higenitas pengguna yang lebih tinggi. "Saat ini, nampan keamanan plastik itu menampung lebih banyak virus pernapasan daripada toilet umum," kata pakar keseharan publik Darin Detwiler, seperti dilansir dari Daily Mail.
Dia juga mengingatkan bahwa area pengambilan bagasi tidak kalah berisiko karena koper yang membawa kuman dari berbagai belahan dunia bersentuhan langsung dengan tangan penumpang. Sebab itu penting untuk menjaga kebersihan tangan, bahkan setelah mendara. "Kelelahan bisa membuat Anda lebih rentan karena Anda kurang waspada dan mudah lengah," ujar Darin.
Kursi hingga Kartu Instruksi Keselamatan
Memasuki kabin, pemilihan kursi ternyata berpengaruh signifikan pada paparan kuman. Ellioy 'Mo' Kreitenberg, spesialis pencegahan infeksi, mengungkapkan bahwa kursi lorong (aisle seat) cenderung paling kotor karena sering dipegang oleh penumpang yang lewat untuk menjaga keseimbangan. "Bagian atas sandaran kursi adalah permukaan yang secara kuantitatis paling terkontaminasi di kabin penumpang," kata Kreitenberg. Dia menekankan bahwa maskapai tidak memiliki standar kebersihan, sehingga apa yang terjadi di antara penerbangan hanyalah pembuangan sampah cepat.
Beberapa benda spesifik lainnya di dalam pesawat juga menjadi magnet kuman yang berbahaya. Gesper sabuk pengaman, misalnya, disentuh oleh ribuan orang selama bertahun-tahun dan jarang sekali dibersihkan. Riset bahkan menemukan keberadaan bakteri bacteroides manusia yang dapat menyebabkan infeksi serius di bagian logam tersebut. Begitu pula dengan meja lipat yang sering digunakan penumpang untuk berbagai hal, mulai dari makan hingga menyandarkan kaki, yang terbukti memiliki jumlah bakteri jauh lebih tinggi dibandingkan tombol siram toilet duduk.
Seperti dilansir dari Travel + Leisure, benda yang paling sering diabaikan adalah kartu instruksi keselamatan di kantong belakang tempat duduk. Kartu plastik ini berpindah tangan dari satu penumpang ke penumpang lain tanpa pernah dilap oleh kru kabin. Kondisi kantong kursi di depannya bahkan lebih memprihatinkan karena sering digunakan menjadi tempat sampah sementara untuk membuang tisu bekas, sisa makanan, hingga popok bayi. Akibatnya, area ini menjadi sarang kuman tersembunyi yang jarang dibersihkan kecuali jika terlihat kotoran yang sangat mencolok.
Selain permukaan benda mati, risiko kesehatan juga muncul dari kualitas air di toilet pesawat. Air yang mengalir dari keran wastafel sering kali berasal dari tangki penyimpanan yang jarang dikuras secara rutin, sehingga berisiko mengandung bakteri tinggi. Hal ini membuat penggunaan tisu basah atau cairan pembersih tangan jauh lebih disarankan daripada mencuci tangan langsung dengan air tersebut. Terakhir, pegangan kompartemen bagasi di atas kepala (overhead bin) juga menjadi titik rawan karena disentuh oleh hampir semua penumpang saat menaikkan atau menurunkan barang tanpa ada prosedur sanitasi berkala.
Sebagai langkah perlindungan, Kreitenberg mengingatkan bahwa teknik sterilisasi mandiri harus dilakukan dengan benar. "Permukaan harus tetap basah secara nyata selama lebih dari 30 detik untuk benar-benar melakukan disinfeksi," kata dia. Dengan membawa hand sanitizer sendiri dan membersihkan area kursi secara mandiri, pelancong dapat meminimalisir risiko terjangkit penyakit selama perjalanan.
Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: Mengapa Harga Tiket Pesawat Sering Berubah-ubah
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·