JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen diperkirakan memberi tekanan jangka pendek terhadap pasar saham domestik.
Di sisi lain, kebijakan tersebut dinilai berpotensi mendorong aliran modal asing (capital inflow) ke pasar obligasi Indonesia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mencatat, secara historis kenaikan BI Rate kerap memicu tekanan jangka pendek terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Secara historis kenaikan BI Rate seringkali memicu koreksi minor atau tekanan jangka pendek pada IHSG,” ucap Nafan saat dihubungi Kompas.com.
Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi psikologi pasar.
Pertama, meningkatnya biaya modal atau cost of fund yang membuat investor mengantisipasi penurunan profitabilitas emiten akibat beban bunga yang meningkat.
Kedua, penyesuaian valuasi saham.
Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor sehingga valuasi saham, terutama menggunakan metode discounted cash flow (DCF), cenderung turun.
“Peningkatan biaya modal (cost of fund). Investor mengantisipasi penurunan profitabilitas emiten akibat beban bunga yang membengkak. Kedua, penyesuaian valuasi, di mana suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan tingkat pengembalian yang diharapkan (required rate of return), sehingga valuasi saham (menggunakan metode discounted cash flow) cenderung turun,” paparnya.
Meski demikian, Nafan menilai koreksi di pasar saham berpotensi bersifat sementara apabila pasar melihat kenaikan BI Rate sebagai langkah pre-emptive yang efektif untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga dinilai justru meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap, khususnya Surat Berharga Negara (SBN), bagi investor asing.
Kenaikan BI Rate biasanya diikuti peningkatan yield obligasi pemerintah.
Kondisi tersebut membuat spread imbal hasil antara obligasi Indonesia dan US Treasury semakin lebar sehingga instrumen obligasi domestik menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil tinggi dengan risiko yang relatif terukur.
“Kenaikan BI-Rate biasanya diikuti oleh kenaikan yield (imbal hasil) obligasi pemerintah. Ketika yield SBN meningkat, spread antara obligasi Indonesia dan US Treasury melebar,” tukas dia.
Situasi tersebut dipandang dapat mendorong capital inflow ke pasar obligasi Indonesia, sementara pasar saham cenderung mengalami volatilitas dan aksi rebalancing dalam jangka pendek.
“Hal ini membuat instrumen pendapatan tetap di Indonesia terlihat lebih seksi karena menawarkan risiko yang terukur dengan imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga memicu aliran modal asing masuk (capital inflow) ke pasar obligasi, sementara pasar saham cenderung mengalami volatilitas atau rebalancing,” lanjut Nafan.
Sebelumnya Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah tertekan akibat tingginya ketidakpastian global, terutama dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin," ujar Perry dalam konferensi pers usai RDG BI, Rabu (20/5/2026).
BI juga mengumumkan kenaikan suku bunga deposit facility menjadi 4,25 persen dan lending facility menjadi 6 persen.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·