Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 akan tetap tumbuh di atas 5 persen. Proyeksi ini disampaikan di tengah tantangan global yang masih belum pasti. Menurut informasi yang dilansir dari Money, perkiraan ini disampaikan pada Senin (13/4/2026) dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 diperkirakan berada di angka 5,2 persen. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39 persen. Namun, BI tetap optimis terhadap kekuatan ekonomi domestik.
Destry menjelaskan bahwa kekuatan ekonomi dalam negeri menjadi penopang utama di situasi ekonomi global yang dinamis. Beberapa indikator yang menjadi acuan BI adalah konsumsi rumah tangga dan produksi.
Dari sisi konsumsi, BI mencatat adanya peningkatan pada Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) masyarakat. Peningkatan ini terutama terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke atas. IPSI pada Maret 2026 tercatat sebesar 129,2, meningkat dari bulan sebelumnya, yaitu 125. Bahkan, angka ini lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang hanya mencapai 121,5.
Keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini juga meningkat di seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok dengan indeks tertinggi adalah mereka yang berpendapatan di atas Rp 5 juta, dengan indeks mencapai 135,9. Meskipun demikian, Destry mengingatkan bahwa kelompok berpendapatan rendah tetap menjadi perhatian utama karena rentan terhadap tekanan ekonomi.
“Kita masih bersyukur punya domestik ekonomi yang cukup kuat, cukup strong. Dan juga kalau kita lihat di sini indeks penghasilan saat ini,” ujar Destry.
Sementara itu, dari sisi produksi, indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) juga diperkirakan meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa produksi di masa mendatang berpotensi naik, seiring dengan membaiknya ekspektasi dunia usaha. Meski demikian, PMI sempat melemah.
S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia turun ke level 50,1. Destry menilai bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh kekhawatiran akibat situasi di Iran. Namun, ia meyakini bahwa momentum ekonomi secara keseluruhan masih positif.
Destry menambahkan bahwa kombinasi antara konsumsi domestik yang terjaga dan kinerja sektor produksi yang membaik menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di awal tahun 2026.
“Ini yang tentu perlu kita jaga. Bagaimana sinergi kebijakan, bukan hanya fiskal dan moneter, tapi kebijakan dengan sektor riil, ini yang sekarang jalan,” tuturnya.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·