BI Sebut Konflik Iran&Israel Picu Efek Domino Terhadap Ekonomi Global

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Eskalasi konflik bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memicu efek domino yang menekan stabilitas ekonomi dunia serta domestik Indonesia. Peringatan ini disampaikan oleh Bank Indonesia (BI) dalam acara Central Banking Forum 2026 di Jakarta pada Senin (13/4/2026).

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa dampak ketegangan di Timur Tengah telah merambah ke berbagai sektor, mulai dari pasar keuangan, komoditas global, hingga jalur perdagangan internasional. Situasi ini diprediksi akan menekan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi lebih rendah sementara inflasi global justru melonjak.

"Ini kita menghadapi situasi yang memang tidak biasa-biasa saja, khususnya situasi di regional dan di global kita," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, dikutip dari Money.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar finansial yang memicu perilaku risk-off dari para investor. Para pemilik modal cenderung menarik dana mereka dari negara berkembang (emerging markets) untuk dialihkan ke aset aman atau safe haven seperti emas dan dollar AS.

Fenomena pelarian modal ini berdampak langsung pada penguatan dollar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, nilai tukar rupiah telah melemah sebesar 1,91 persen sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, dengan total pelemahan tahun berjalan (year to date) mencapai 2,39 persen.

Destry mengungkapkan bahwa meskipun mulai terlihat aliran modal masuk (inflow) pada Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, Indonesia secara keseluruhan masih mencatat aliran modal keluar (outflow). Total dana asing yang keluar dari pasar domestik akibat sentimen risiko ini mencapai sekitar Rp21 triliun.

Sektor energi juga terdampak signifikan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Hal ini dipicu oleh ancaman penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi global. Meski produksi minyak Iran hanya berkontribusi 5 persen di dunia, gangguan di selat tersebut dapat menghambat hingga 20 persen suplai minyak global.

Gangguan distribusi ini menyebabkan harga berbagai komoditas lain ikut melonjak, mulai dari LNG, batubara, aluminium, hingga bahan pangan seperti sereal dan kedelai. Ketidakpastian perundingan antara pihak-pihak yang bertikai dilaporkan terus mendorong kenaikan harga komoditas dalam waktu singkat.

Pada jalur perdagangan, penutupan Selat Hormuz mengganggu rantai pasok produsen utama dan meningkatkan biaya logistik melalui kenaikan premi asuransi kapal serta biaya pengapalan. Dampak ini menyeret turun produktivitas industri di berbagai negara mitra dagang seperti China, India, dan Turki.

Bank Indonesia terus memantau dinamika pasokan plastik dan bahan baku industri lainnya yang ikut mengalami kenaikan harga akibat gangguan rantai pasok internasional tersebut. Kondisi ini diprediksi masih akan berlanjut selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mencapai kesepakatan damai yang permanen.