Aliansi Amerika Serikat dan Israel diproyeksikan harus menanggung beban biaya perang melawan Iran hingga melampaui angka 1 triliun dollar AS atau setara Rp 17.129 triliun. Estimasi ini muncul setelah pembicaraan perdamaian menemui jalan buntu dan militer AS memulai blokade pelabuhan Iran pada Senin (13/4/2026).
Berdasarkan laporan Pentagon yang dilansir dari Money pada Selasa (14/4/2026), pengeluaran militer tersebut telah mencapai 11,3 miliar dollar AS hanya dalam kurun waktu enam hari pertama konflik. Pakar Kebijakan Publik Harvard Kennedy School, Linda Bilmes, menilai angka ini akan terus membengkak secara signifikan di tengah upaya penyelesaian jangka panjang yang sulit dicapai.
"Saya yakin kita akan mencapai angka 1 triliun dollar AS untuk perang melawan Iran," kata Linda Bilmes, Pakar Kebijakan Publik Harvard Kennedy School. Penelitiannya menunjukkan bahwa operasi militer ini berpotensi memberikan konsekuensi bencana bagi utang nasional AS di masa depan.
Dalam jangka pendek, Bilmes memperkirakan biaya operasional mencapai sekitar 2 miliar dollar AS per hari selama 40 hari pertama konfrontasi. Nilai tersebut mencakup belanja amunisi, pengerahan pasukan, serta penggantian aset militer yang rusak, termasuk insiden jatuhnya tiga jet tempur F-15 akibat tembakan kawan sendiri di Kuwait.
Terdapat selisih besar antara data yang dilaporkan Pentagon dengan biaya riil di lapangan karena perbedaan perhitungan nilai aset. Pentagon melaporkan angka berdasarkan nilai historis inventaris, sementara harga penggantian pesawat pencegat dan rudal dari produsen seperti Lockheed Martin dan Boeing kini jauh lebih tinggi.
Sebagai perbandingan efisiensi biaya, AS memerlukan dana sedikitnya 4 juta dollar AS untuk setiap pesawat pencegat yang digunakan. Di sisi lain, drone yang diluncurkan oleh pihak Iran diperkirakan hanya membutuhkan biaya produksi sekitar 30.000 dollar AS per unit.
Beban finansial jangka panjang juga mencakup biaya rekonstruksi infrastruktur sekutu dan tunjangan cacat seumur hidup bagi sekitar 55.000 tentara yang terpapar risiko lingkungan di kawasan konflik. Kondisi ini memperberat posisi fiskal AS yang saat ini memiliki basis utang publik lebih dari 31 triliun dollar AS.
Gedung Putih telah merespons situasi ini dengan mengajukan permohonan kepada Kongres untuk menaikkan anggaran pertahanan menjadi 1,5 triliun dollar AS. Permintaan tersebut merupakan peningkatan belanja militer terbesar sejak era Perang Dunia Kedua, di luar dana tambahan 200 miliar dollar AS yang diminta khusus untuk operasional di Iran.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·