9 Mei 2026 22.30 WIB • 2 menit

Bintan Jadi Rumah 425 Spesies Ikan Karang, BLUD Dibentuk buat Melindunginya
Kawasan perairan Bintan di Provinsi Kepulauan Riau kembali menjadi sorotan karena kekayaan biodiversitas lautnya yang dinilai sangat penting bagi Indonesia. Wilayah ini diketahui memiliki ekosistem pesisir yang lengkap, mulai dari terumbu karang hingga padang lamun yang menjadi habitat berbagai jenis biota laut. Untuk memperkuat perlindungan kawasan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau kini resmi membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang akan mengelola kawasan konservasi laut di wilayah itu.
Data hasil survei ilmiah Marine Rapid Ecological Assessment Program (MREP) yang dilakukan Konservasi Indonesia menunjukkan bahwa perairan Bintan menjadi rumah bagi sedikitnya 425 spesies ikan karang. Temuan tersebut memperlihatkan tingginya keanekaragaman hayati laut di kawasan tersebut. Dari total spesies yang ditemukan, sebanyak 219 spesies tercatat sebagai catatan baru di perairan Bintan. Bahkan, delapan spesies di antaranya diduga merupakan spesies baru yang masih membutuhkan penelitian ilmiah lebih lanjut.
Pembentukan BLUD menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah dalam memperkuat sistem pengelolaan kawasan konservasi laut di Kepulauan Riau. Lembaga tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur pada akhir 2025 dan mulai diperkenalkan kepada publik pada awal tahun ini. Nantinya, BLUD akan bertanggung jawab mengelola kawasan konservasi laut seluas sekitar 1,7 juta hektare di wilayah perairan Kepulauan Riau.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Said, mengatakan bahwa perairan Bintan memiliki nilai ekologis yang besar sehingga membutuhkan pengelolaan yang terencana. “Perairan Bintan memiliki potensi ekologis yang sangat besar. Karena itu, pengawasan dan pengendaliannya perlu dilakukan secara terencana agar perlindungan ekosistem laut dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Said dalam keterangannya.
Habitat Penting Dugong dan Penyu
Selain dikenal memiliki ratusan spesies ikan karang, kawasan perairan Bintan juga menjadi habitat penting bagi sejumlah satwa laut yang dilindungi. Ekosistem padang lamun yang luas di wilayah ini menjadi tempat hidup dugong, mamalia laut yang kini populasinya semakin berkurang di berbagai wilayah dunia. Tidak hanya itu, kawasan ini juga menjadi habitat bagi penyu dan berbagai spesies ikan yang bergantung pada kesehatan ekosistem pesisir.
Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw, menilai bahwa nilai biodiversitas laut di Bintan tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga kawasan regional. Menurutnya, keberadaan terumbu karang dan padang lamun yang masih terjaga menjadikan wilayah tersebut memiliki fungsi ekologis yang sangat besar.
“Karena itu, penataan kawasan konservasi yang efektif menjadi kunci untuk memastikan ekosistem tersebut tetap terjaga,” kata Victor. Ia juga menjelaskan bahwa pembentukan BLUD menjadi langkah penting karena memungkinkan pengelolaan kawasan konservasi dilakukan secara lebih terstruktur, mulai dari perlindungan ekosistem hingga pemantauan kondisi lingkungan.
Konservasi Indonesia, lanjut Victor, mendukung penuh penguatan kelembagaan pengelola kawasan tersebut. Dukungan itu mencakup peningkatan kapasitas pengelola, penyusunan rencana operasional kawasan konservasi, hingga perancangan skema pendanaan yang mendukung keberlanjutan pengelolaan kawasan laut.
Potensi Wisata Bahari Berkelanjutan
Di samping nilai ekologisnya, kawasan perairan Bintan juga dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata bahari berkelanjutan. Letaknya yang dekat dengan Singapura menjadikan wilayah ini sebagai salah satu tujuan wisata utama di Kepulauan Riau. Sejumlah pulau kecil di kawasan tersebut telah berkembang menjadi kawasan resort dan destinasi wisata laut.
Keberadaan terumbu karang dan padang lamun juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata bahari, termasuk kegiatan menyelam dan ekowisata. Namun, pengembangan sektor wisata dinilai perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak keseimbangan ekosistem laut yang ada.
Dengan terbentuknya BLUD, pemerintah daerah berharap pengelolaan kawasan konservasi di Bintan dapat berjalan lebih efektif. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa kekayaan biodiversitas laut di wilayah tersebut tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor
Terima kasih telah membaca sampai di sini
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·