Blibli meluncurkan inisiatif “Jeda 10 Detik”, sebuah kampanye yang mengajak masyarakat Indonesia untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi terhadap konten di media sosial.
Saat ini, media sosial tak lagi sekadar ruang berbagi cerita. Di balik layar yang terus bergulir tanpa henti, ada algoritma dan konten yang sengaja dirancang untuk memancing perhatian, emosi, hingga reaksi spontan penggunanya.
Padahal di balik setiap interaksi digital tersebut terdapat serangkaian keputusan kecil yang kita ambil sepanjang hari. Apakah informasi ini benar? Apakah perlu dibagikan? Apakah perlu ikut berkomentar? Dalam dunia digital yang bergerak cepat, keputusan-keputusan mikro seperti ini muncul ratusan kali tanpa kita sadari.
Sejumlah pengamat perilaku digital menyebut kondisi ini sebagai micro decision fatigue, situasi ketika otak terus-menerus membuat keputusan kecil sepanjang hari hingga akhirnya menjadi lebih reaktif. Ketika perhatian terbagi dan ritme informasi semakin cepat, refleks untuk langsung bereaksi sering kali mengambil alih.
Fenomena itulah yang mendorong Blibli meluncurkan inisiatif “Jeda 10 Detik”. Jeda sendiri bukan sekadar kata, melainkan akronim dari Jangan reaktif, Evaluasi informasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang.
Head of PR Blibli, Nazrya Octora, mengatakan kampanye ini lahir dari keresahan terhadap perilaku digital masyarakat yang makin impulsif. Banyak orang, menurut dia, kerap bereaksi tanpa sempat memverifikasi informasi yang diterima.
“Informasi sekarang sangat mudah terpapar ke kita, bahkan tanpa kita sengaja mencarinya. Kontennya juga didesain sangat menarik supaya kita terus berinteraksi,” kata Nazrya di acara peluncuran kampanye di Jakarta, Selasa (28/4).
Lewat sebuah social experiment yang digelar sejak 19 Februari hingga 31 Maret 2026, Blibli mencoba menguji bagaimana masyarakat merespons berbagai konten yang sengaja dibuat untuk memancing rasa penasaran.
Beberapa contoh konten seperti klaim “bisa kurus hanya dengan bernapas”, “gravitasi bumi akan hilang selama tujuh detik”, hingga “modal tidur bisa dapat rezeki nomplok”. Ketika pengguna tergoda mengklik, mereka justru diarahkan ke halaman “Jeda 10 Detik”.
Di halaman itu, pengguna diajak berhenti sejenak sebelum bereaksi. Ada berbagai aktivitas singkat yang disediakan (micro-break activity), mulai dari latihan napas, permainan sederhana untuk membantu pengguna menenangkan pikiran.
“Kami ingin mengingatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita bukan cuma mengambil keputusan besar, tapi juga keputusan-keputusan kecil yang sering kali impulsif,” ujar Nazrya.
Hasil eksperimen yang melibatkan sekitar 158 ribu warga Indonesia menunjukkan, sebanyak 7 dari 10 responden mengaku merasa lebih tenang dan lebih jernih pikirannya setelah menerapkan jeda 10 detik sebelum bereaksi terhadap konten.
Nazrya mengatakan, tujuan utama kampanye ini bukan menyalahkan platform atau konten digital, melainkan mengajak masyarakat kembali mengambil kendali atas keputusan mereka sendiri.
“Kita tidak blaming others. Tapi kita ingin mengajak bahwa kita tetap punya kendali atas keputusan yang kita ambil,” ujarnya.
Menariknya, hasil survei juga menunjukkan kelompok baby boomers menjadi generasi yang paling responsif terhadap konten clickbait. Namun generasi muda seperti Gen Z juga tetap rentan terpancing.
Selain itu, perilaku impulsif paling banyak terjadi pada jam-jam tertentu, terutama sekitar pukul 09.00 hingga 15.00, ketika konsentrasi mulai menurun akibat kelelahan menatap layar.
Nazrya menilai, kebiasaan bereaksi cepat terhadap informasi kini sudah menjadi bagian dari rutinitas digital masyarakat. Bahkan saat hari libur, orang tetap terus terhubung dengan arus informasi dan bereaksi tanpa jeda. Karena itu, Blibli ingin mendorong budaya digital yang lebih sehat lewat kebiasaan sederhana, berhenti sejenak sebelum klik, komentar, atau membagikan sesuatu.
“Ketenangan itu bukan soal berapa lama waktunya, tapi seberapa hadir kita untuk diri sendiri. Kadang cukup dengan jeda 10 detik,” kata Nazrya.
Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital, Komdigi, menyambut baik inisiatif yang dilakukan Blibli. Dia mengatakan, di tengah disrupsi informasi, literasi digital masyarakat Indonesia memang diuji agar tidak terjebak ke dalam hoaks atau tidak ada dasar sumbernya.
Boni menilai, Jeda 10 Detik bisa memberi ruang kepada masyarakat untuk berpikir secara bijak sebelum kita memutuskan untuk mengklik atau mempercayai sebuah konten.
“Jeda 10 detik adalah bagian dari cara atau nilai tambah bagaimana kita menilai dengan jernih dalam menyaring informasi di media sosial. Ini adalah cara bagaimana kita kritis, ini ajakan yang bijak dengan 10 detik merefleksikan berita dengan lebih baik,” ujar Boni.
Boni berharap, Jeda 10 Detik bisa menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, kemampuan mengendalikan diri justru menjadi keterampilan digital yang paling penting.
Bagi yang ingin mencoba sendiri pendekatan ini, kunjungi jeda10detik.com. Siapa tahu, sepuluh detik bisa membuat perbedaan.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·