Blokade AS di Selat Hormuz Picu Krisis Pasokan Energi India

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Pemerintah India menghadapi ancaman krisis energi nasional setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi mengumumkan blokade laut di Selat Hormuz pada Minggu (12/4/2026). Kebijakan ini diterapkan menyusul kegagalan perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan yang berdampak langsung pada terhentinya jalur utama pasokan minyak mentah ke India.

Dilansir dari Detik Finance, India terjepit di tengah ketegangan geopolitik karena blokade tersebut terjadi sesaat setelah New Delhi menerima pengiriman minyak perdana dari Iran dalam tujuh tahun terakhir. Sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, India mendatangkan sekitar 85 persen kebutuhan energinya atau setara 5,5 juta barel per hari dari luar negeri.

Analis XAnalysts Mukesh Sahdev menjelaskan bahwa India kini menghadapi tekanan ganda akibat hilangnya akses ke dua sumber utama. Selain terputusnya jalur Iran, masa berlaku izin khusus dari AS bagi India untuk membeli minyak Rusia juga telah berakhir pada 11 April lalu.

"India telah kehilangan sekitar 3 juta barel minyak mentah per hari yang sebelumnya melintasi Selat Hormuz. Hal ini memaksa perusahaan kilang minyak untuk berebut mencari pasokan ke negara lain, terutama dari Rusia," ujar Mukesh Sahdev, Analis XAnalysts, sebagaimana dikutip dari CNBC Internasional.

Kondisi ketahanan energi India saat ini dinilai lebih rentan dibandingkan negara lain seperti China. Berbeda dengan China yang memiliki cadangan untuk 300 hari, India hanya mempunyai cadangan sekitar 160 juta barel yang diperkirakan hanya mampu bertahan selama 30 hari jika gangguan pasokan terus berlanjut.

Dampak ekonomi mulai terlihat pada melambatnya aktivitas sektor swasta India yang mencatatkan level terendah sejak Oktober 2022 menurut indeks PMI dari HSBC. Kementerian Keuangan India memperingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 7,0 persen hingga 7,4 persen terancam meleset akibat lonjakan biaya energi dan gangguan rantai pasok global.

Data dari Rystad Energy menunjukkan bahwa India sempat membeli 1,5 juta barel minyak mentah per hari dari Rusia selama masa keringanan sanksi 30 hari. Namun, kebijakan tarif tambahan 25 persen dari AS tahun lalu sempat memaksa India mengurangi pembelian dari Rusia sebelum konflik di Timur Tengah kembali mengganggu strategi tersebut.

"Saya merasa kasihan pada pemerintah India. Mereka seolah didikte oleh AS tentang apakah boleh atau tidak membeli energi dari Rusia atau Iran," kata Samir Kapadia, Pimpinan Vogel Group.

Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India menyatakan bahwa stok nasional masih terkendali dan seluruh kilang beroperasi pada kapasitas tinggi. Pemerintah berupaya meredam kepanikan publik dengan menegaskan bahwa inventaris minyak mentah saat ini masih dalam kondisi memadai untuk memenuhi kebutuhan domestik.