Optimisme pasar global memudar setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (13/4/2026) memerintahkan blokade total Selat Hormuz. Langkah ini merupakan respons terhadap kegagalan perundingan damai dengan Iran selama akhir pekan, yang segera memicu lonjakan harga minyak mentah dan menyebabkan pasar saham serta obligasi berguguran.
Minyak mentah jenis Brent melonjak 6,8% hingga hampir menyentuh US$102 per barel. Kenaikan ini didorong kekhawatiran bahwa blokade di jalur perairan strategis tersebut akan melumpuhkan aliran energi global. Adapun bursa saham Asia terkoreksi 0,7%.
Kontrak berjangka S&P 500 juga turun 0,7% akibat kekhawatiran biaya energi yang mahal akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya, berfungsi sebagai aset safe haven di tengah gejolak konflik Timur Tengah, demikian dilansir dari Bloomberg News.
Sebaliknya, pasar obligasi mengalami penurunan, dengan imbal hasil (yield) surat utang negara Jepang tenor 10 tahun melonjak hingga 2,49%, mencapai level tertinggi sejak 1997. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran inflasi. Harga emas turut tertekan, turun 0,7% ke kisaran US$4.710 per ons.
Kenaikan harga minyak memicu ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi, menambah tekanan pada aset-aset tanpa imbal hasil seperti emas. Blokade ini juga menekan sentimen positif yang sempat muncul dari gencatan senjata pekan lalu.
Meskipun demikian, penurunan moderat pada pembukaan pasar Senin menunjukkan bahwa investor masih memiliki optimisme terbatas. Mereka menilai solusi diplomatik untuk konflik antara AS dan Iran masih mungkin tercapai.
“Nuansa diplomatik ini patut dipantau,” ujar Dionissios Kontos, salah satu pendiri firma analisis pasar Meyka AI, sebelum blokade diumumkan. Ia menambahkan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran masih membuka pintu untuk pembicaraan lanjutan, mengindikasikan bahwa situasi ini adalah ketidakpastian yang berkepanjangan, bukan kegagalan total.
Menurut pengumuman Komando Pusat AS (CENTCOM), blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran dimulai pada Senin pukul 10 pagi waktu New York. Namun, pasukan AS tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang transit di Selat Hormuz menuju atau dari pelabuhan selain Iran.
Menanggapi blokade ini, Teheran menyatakan "tidak akan membiarkan" langkah tersebut berjalan. Presiden Trump menegaskan bahwa AS akan mencegat kapal apa pun yang membayar "bea keamanan" kepada Iran untuk jalur aman di Hormuz dan akan membersihkan ranjau di selat tersebut.
Blokade ini diperkirakan akan menghentikan aliran hampir dua juta barel minyak Iran per hari. Hal ini akan semakin mempersempit pasokan global dan memutus sumber pendapatan penting bagi Iran.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·