BMKG AS Prediksi Super El Nino Picu Cuaca Ekstrem Global

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Badan Administrasi Atmosfer dan Kelautan Nasional Amerika Serikat (NOAA) mendeteksi peningkatan peluang terjadinya fenomena alam berupa "Super El Nino" yang diprediksi membawa rekor suhu panas serta cuaca ekstrem secara global hingga musim panas tahun 2027 mendatang.

Dilansir dari TODAY.com pada Jumat (22/5/2026), fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ini berpotensi mengacaukan pola angin dunia. NOAA merilis prospek cuaca pada 6 Mei yang menunjukkan adanya peluang sebesar 82 persen bahwa El Nino mulai muncul antara bulan Mei hingga Juli 2026.

Selain itu, terdapat probabilitas sebesar 96 persen bahwa kondisi tersebut akan terus bertahan dari Desember hingga Februari 2027, dengan puncak intensitas diperkirakan terjadi pada musim gugur atau musim dingin mendatang.

Prakirawan cuaca TODAY, Al Roker, memberikan analisisnya mengenai dampak utama yang kemungkinan besar akan dihadapi oleh penduduk bumi akibat lonjakan suhu perairan pasifik tersebut.

"The biggest impact will probably be temperature. Either this year or next year, there could be a global temperature record. What that means for the U.S., it’s still a little early to tell." kata Al Roker, Prakirawan Cuaca TODAY.

Roker menambahkan bahwa berdasarkan pengamatan terhadap seluruh data yang masuk, siklus kali ini diproyeksikan menjadi salah satu catatan El Nino terkuat dalam sejarah.

"Anything is possible, but you look at all the data, and it looks like it’s going to be one of the strongest El Niños on record," ujar Al Roker, Prakirawan Cuaca TODAY.

Senior meteorolog sekaligus produser NBC News, Kathryn Prociv, turut menyampaikan kekhawatirannya terkait korelasi langsung antara kenaikan suhu bumi secara global dengan potensi bencana alam yang akan menyusul.

"That’s why we start to get worried because a warmer globe means extreme weather events," kata Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Menurut Prociv, peningkatan suhu ini dapat memengaruhi pola pembentukan badai hurikan, gelombang panas, hingga potensi banjir bandang di berbagai wilayah dunia.

"That can influence hurricanes, heat waves, potential flood patterns and more." ujar Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Terkait wilayah spesifik, pantai barat Amerika Serikat dan Hawaii diprediksi menghadapi ancaman nyata dari aktivitas badai yang lebih agresif di Samudra Pasifik.

"It usually means a more active Pacific hurricane season," kata Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Prociv mengingatkan kembali memori buruk saat El Nino melanda pada rentang 2023 hingga 2024, di mana Badai Hilary memicu peringatan badai tropis perdana yang tidak biasa untuk wilayah California Selatan.

"Alarm bells are going off already for Hawaii." ujar Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Meskipun pusaran badai kala itu tidak sampai mendarat langsung di daratan California, efek kelembaban tropisnya memicu banjir besar yang memecahkan rekor curah hujan tahunan setempat.

"It didn’t make landfall in California, but it did cause all the record-setting flooding and tropical moisture in areas that don’t typically see that amount of rain in a year," kata Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Selain memicu badai, fenomena El Nino yang berkolaborasi dengan dampak perubahan iklim jangka panjang dipastikan bakal memperparah gelombang panas ekstrem pada musim panas ini.

"The summer heat waves will be likely extreme and connected or not to El Niño with rising global temperatures," ujar Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Di sisi lain, NOAA mengeluarkan prediksi berbeda untuk wilayah Samudra Atlantik. Lembaga tersebut merilis prospek pada 21 Mei dengan peluang 55 persen terjadinya musim badai yang berada di bawah rata-rata normal.

Prakiraan tersebut memprediksi munculnya 8 hingga 14 badai bernama, dengan 3 sampai 6 di antaranya berpotensi menjadi badai besar. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan musim normal yang biasanya menampung 14 badai bernama.

Meskipun intensitas kuantitas badai di Atlantik diproyeksikan menurun, Al Roker mengingatkan masyarakat di sepanjang Pantai Timur untuk tidak meremehkan potensi kerusakan yang dibawa oleh satu badai sekalipun.

"I think for those of us along the East Coast, (El Niño) looks like it means a below-average hurricane season," kata Al Roker, Prakirawan Cuaca TODAY.

Roker mencontohkan hantaman Badai Idalia kategori 3 yang memorak-porandakan wilayah Florida dengan kecepatan angin mencapai 125 mil per jam pada periode El Nino sebelumnya.

"The last time we only had Hurricane Idalia, but it was a heck of a hurricane. You only need one to be catastrophic." ujar Al Roker, Prakirawan Cuaca TODAY.

Selain ancaman badai katastrofik tunggal, wilayah bagian selatan Amerika Serikat diproyeksikan mengalami peningkatan frekuensi badai akibat pergerakan arus jet subtropis yang menguat.

"Another pattern recognition from previous El Niños is a stormier southern half of the U.S.," kata Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Arus jet tersebut diibaratkan sebagai jalur cepat bagi pergerakan badai, di mana El Nino bertindak sebagai motor penggerak utama yang memberikan tambahan energi besar.

"The subtropical jet stream is like a storm highway, and (El Niño) really energizes it and gets it going." ujar Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.

Kondisi ini diprediksi membuat wilayah pesisir Teluk dan Florida mengalami periode musim gugur hingga musim dingin yang jauh lebih basah dari biasanya.

"It probably looks really wet for Florida and the Gulf Coast as you go into the fall and winter," kata Al Roker, Prakirawan Cuaca TODAY.

Catatan klimatologi sejarah juga memperkuat bukti bahwa wilayah Florida memang sangat rentan mengalami anomali cuaca buruk selama periode tahun-tahun terjadinya El Nino.

"For Florida, it is in the climatological record that you tend to see more storms and severe weather during El Niño years," ujar Kathryn Prociv, Senior Meteorolog NBC News.