Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 16 hingga 22 April 2026. Kemunculan awan ini berisiko memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat, kilat, serta angin kencang secara meluas.
Kondisi cuaca tersebut diprediksi mencakup wilayah daratan maupun perairan di tanah air. Dilansir dari Kompas, pertumbuhan awan badai ini dikategorikan berdasarkan tingkat cakupan wilayah untuk memetakan risiko dampak yang mungkin timbul bagi masyarakat dan sektor transportasi.
BMKG mencatat sejumlah titik dengan kategori frequent (FRQ) atau cakupan awan lebih dari 75 persen, yang berarti pertumbuhan awan sangat dominan. Lokasi tersebut meliputi Laut Sumbawa, Papua Tengah, Samudra Hindia di barat Lampung serta selatan NTT, hingga Samudra Pasifik utara Papua.
Selain kategori tinggi, sebagian besar wilayah Indonesia lainnya berada pada kategori occasional (OCNL) dengan cakupan awan 50 hingga 75 persen. Sebaran ini mencakup hampir seluruh provinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah Maluku dan Papua.
Pulau Jawa juga tidak luput dari pantauan, dengan potensi pertumbuhan awan yang terdeteksi di wilayah Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Aktivitas di perairan strategis seperti Laut Jawa, Selat Makassar, dan Selat Malaka juga berisiko terganggu akibat penurunan visibilitas dan potensi turbulensi udara.
Awan Cumulonimbus sendiri merupakan awan vertikal menjulang tinggi yang terbentuk akibat proses konveksi kuat udara panas dan lembap. Fenomena ini sering kali diawali dengan perubahan suhu drastis dan langit yang menggelap secara tiba-tiba sebelum terjadi hujan intensitas tinggi.
Pihak BMKG menjelaskan bahwa data tersebut merupakan hasil model cuaca numerik yang digunakan untuk prakiraan penerbangan. Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan memantau perubahan cuaca mendadak selama sepekan ke depan.
| FRQ (Frequent) | Lebih dari 75% | Laut Sumbawa, Papua Tengah, Samudra Hindia (Barat Lampung, Selatan NTT), Samudra Pasifik Utara Papua. |
| OCNL (Occasional) | 50–75% | Sumatera, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT, Papua, serta sebagian besar selat dan laut nasional. |
| ISOL (Isolated) | Kurang dari 50% | Wilayah dengan persebaran awan lokal atau terbatas. |
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·