BMKG Pantau Dampak Gempa Maluku dan Aktivitas Sesar Tolitoli

Sedang Trending 52 menit yang lalu

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau aktivitas tektonik ganda berupa guncangan gempa bermagnitudo 6,4 di Laut Banda, Maluku, dan pergerakan sesar darat di Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada Jumat (15/5/2026) pukul 00.53 WIB.

Otoritas memastikan fenomena tektonik di Laut Banda tersebut tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. Berdasarkan laporan dari Detikcom, getaran gempa dirasakan oleh warga di Saumlaki, Banda, Tual, Dobo, Masela, Sorong, Raja Ampat, Fak-Fak, dan Kaimana dengan skala intensitas II-III MMI.

Pusat gempa terletak di laut pada jarak 214 kilometer arah Barat Laut Tanimbar dengan kedalaman 151 kilometer, sementara data koordinat lain mencatat kekuatan M6,7 di titik 6,09 Lintang Selatan dan 130,56 Bujur Timur pada kedalaman 163 kilometer.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menjelaskan bahwa gempa di Laut Banda terjadi akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Banda.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust )," ungkap Wijayanto, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Petugas di pos pemantauan terus melakukan pengawasan seismik setelah guncangan utama terjadi di perairan Maluku untuk mengantisipasi potensi pergerakan susulan.

"Hingga pukul 01.16 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock)." kata Wijayanto, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Melalui akun media sosial resminya, lembaga pemantau cuaca dan iklim tersebut juga membagikan detail titik episenter kepada publik.

"Pusat gempa berada di laut 225 km utara Tanimbar," tulis @infoBMKG.

Pada waktu yang hampir bersamaan, BMKG memfokuskan pemantauan pada aktivitas tektonik darat di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, setelah wilayah tersebut diguncang gempa dangkal bermagnitudo 2,3 pada 14 Mei 2026 pukul 05.50 WIB.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro memaparkan bahwa rangkaian getaran di Sulawesi Tengah merupakan kelanjutan dari aktivitas tektonik yang terjadi pada 10 Mei 2026.

"With reflecting the epicenter location and the hypocenter depth, the earthquake occurred is a type of shallow earthquake caused by active fault activity," kata Djati Cipto Kuncoro, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu.

Pihak geofisika setempat menegaskan kembali pentingnya kewaspadaan warga terhadap pola pergerakan tanah di area sesar aktif tersebut.

"With memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," ujar Djati Cipto Kuncoro, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu.

Media lokal seperti Tribun Kaltara, Pikiran Rakyat Buol, dan Butol Post melaporkan situasi di Tolitoli tetap kondusif, namun masyarakat diminta tetap bersiap menghadapi pembaruan data teknis.

"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," lanjut BMKG.