BMKG Pantau Gempa M6,4 di Laut Banda dan Aktivitas Sesar Tolitoli

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas tektonik ganda berupa guncangan gempa bermagnitudo 6,4 di Laut Banda, Maluku, dan aktivitas sesar darat di Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada Jumat (15/5/2026) pukul 00.53 WIB.

Guncangan di Maluku berpusat di laut pada jarak 214 kilometer arah Barat Laut Tanimbar dengan kedalaman 151 kilometer berdasarkan parameter pembaruan BMKG. Sementara itu, sumber lain mencatat kekuatan M6,7 pada kedalaman 163 kilometer di titik 225 kilometer utara Tanimbar.

Getaran gempa di Laut Banda dirasakan di Saumlaki, Banda, Tual, Dobo, Masela, Sorong, Raja Ampat, Fak-Fak, dan Kaimana dengan skala intensitas II-III MMI. Otoritas memastikan fenomena ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami, serta belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menjelaskan bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah. Peristiwa ini timbul akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Banda.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust )," ungkap Wijayanto, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Petugas terus memantau pergerakan seismik setelah guncangan utama tersebut terjadi di perairan Maluku. Hingga saat ini, sistem pemodelan geofisika belum mendeteksi adanya tanda-tanda pergerakan tektonik lanjutan di lokasi yang sama.

"Hingga pukul 01.16 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock)." kata Wijayanto, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Pada waktu yang hampir bersamaan, BMKG juga memfokuskan pantauan pada aktivitas tektonik di daratan Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Wilayah tersebut diguncang gempa dangkal bermagnitudo 2,3 pada 14 Mei 2026 pukul 05.50 WIB di kedalaman 5 kilometer, yang disusul informasi awal bermagnitudo 4,9.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro memaparkan bahwa rangkaian getaran di Sulawesi Tengah merupakan kelanjutan dari aktivitas tektonik yang terjadi pada 10 Mei 2026. Karakteristik guncangan di daratan ini dikategorikan sebagai gempa dangkal.

"With reflecting the epicenter location and the hypocenter depth, the earthquake occurred is a type of shallow earthquake caused by active fault activity," kata Djati Cipto Kuncoro, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu.

Pihak geofisika setempat menegaskan kembali pentingnya kewaspadaan warga terhadap pola pergerakan tanah di area sesar aktif tersebut. Penjelasan teknis mengenai lokasi episenter menjadi acuan utama dalam analisis mitigasi bencana di wilayah Tolitoli.

"With memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," ujar Djati Cipto Kuncoro, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu.

Media lokal seperti Tribun Kaltara, Pikiran Rakyat Buol, dan Butol Post melaporkan kondisi di Tolitoli tetap kondusif setelah getaran terjadi. BMKG mengingatkan bahwa data awal di Tolitoli diolah secara cepat sehingga masih berpotensi mengalami perubahan.

"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," lanjut BMKG.