Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui peta prakiraan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia untuk periode 8 hingga 14 Mei 2026. Dilansir dari Kompas, otoritas meteorologi ini memberikan perhatian khusus pada peningkatan aktivitas awan yang dapat memicu cuaca buruk tersebut.
Peningkatan pertumbuhan awan ini terpantau signifikan di jalur utama Selat Karimata dan wilayah Sulawesi Tenggara. Kedua lokasi tersebut kini ditetapkan berada dalam zona risiko tinggi yang memerlukan kewaspadaan ekstra bagi sektor transportasi.
Fenomena awan Cumulonimbus menjadi prioritas utama pemantauan karena dampaknya terhadap keselamatan pelayaran dan penerbangan. Jenis awan ini diketahui mampu memicu hujan badai, kilat, petir, hingga guncangan turbulensi hebat bagi pesawat yang melintas.
BMKG menggunakan kategori Frequent (FRQ) untuk memprediksi wilayah dengan cakupan spasial awan Cumulonimbus yang melebihi 75 persen. Wilayah yang masuk dalam zona merah ini mencakup daratan Sulawesi Tenggara hingga Papua Selatan.
Selain daratan, kepadatan awan tinggi juga diprediksi menyelimuti perairan strategis seperti Selat Karimata bagian utara dan selatan, serta Laut Jawa bagian tengah dan timur. Zona risiko ini juga meluas hingga ke Laut Banda dan Laut Natuna Utara.
Kondisi serupa terpantau di wilayah samudra, tepatnya di Samudra Hindia yang berada di sebelah barat Bengkulu, Kepulauan Mentawai, dan Kepulauan Nias. Seluruh bagian Selat Karimata yang menjadi jalur logistik utama antara Jawa, Sumatera, dan Kalimantan menjadi catatan penting selama sepekan ke depan.
Potensi Menengah di Bali dan Yogyakarta
Kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan awan berkisar 50 hingga 75 persen juga mengalami perluasan. Wilayah destinasi wisata utama seperti Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta kini masuk dalam radar potensi pertumbuhan awan Cb kategori menengah.
Secara keseluruhan, wilayah dengan potensi menengah ini membentang di hampir seluruh provinsi di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Wilayah Nusa Tenggara Timur serta Maluku juga berada dalam pantauan kategori yang sama.
| Sulawesi Tenggara, Papua Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Laut Banda, Laut Natuna Utara, Samudra Hindia Barat Sumatera. |
| DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Aceh, Jambi, Lampung, Riau, Kalimantan, NTT, Maluku. |
| Wilayah dengan cakupan awan terpencar di bawah 50 persen. |
Imbauan Keselamatan Bagi Transportasi
BMKG menegaskan bahwa data yang dirilis merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan berbasis model numerik untuk durasi tujuh hari. Maskapai penerbangan dan nakhoda kapal diharapkan tetap waspada serta melakukan mitigasi risiko saat melewati zona-zona merah.
Pilot dan nakhoda disarankan untuk melakukan pemantauan intensif secara berkala melalui sistem radar armada masing-masing. Langkah antisipasi ini krusial untuk menghindari potensi turbulensi pada jalur penerbangan maupun gelombang tinggi di perairan.
Masyarakat yang berada di daratan, khususnya di Sulawesi Tenggara, Papua, Bali, dan Yogyakarta, diimbau mengantisipasi perubahan cuaca mendadak. Informasi cuaca real-time dapat diakses melalui aplikasi resmi InfoBMKG atau kanal otoritas terkait.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·