BMKG: Sepekan ke Depan Sudah El Nino tapi Masih Ada Hujan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG menyatakan kalau kondisi cuaca di Indonesia masih menunjukkan dinamika khas masa peralihan beberapa hari terakhir. Berkurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang pada sejumlah wilayah membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif, sehingga suhu udara siang terasa lebih panas.

Kondisi suhu yang terik pada siang hari dapat mendukung proses pembentukan awan hujan, terutama pada periode sore hingga malam. Peluang ini umumnya lebih besar terjadi di wilayah yang memiliki kelembapan udara cukup, karena kondisi atmosfer mendukung bagi pertumbuhan awan konvektif.

Hal tersebut dikonfirmasi dengan masih adanya hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang masih tercatat di sejumlah daerah. BMKG misalnya mencatat curah hujan harian ekstrem di Bogor, Jawa Barat, hingga 184,5 mm sepanjang Jumat lalu, 15 Mei 2026.

Peningkatan peluang hujan itu dipengaruhi oleh kombinasi beberapa dinamika atmosfer yang sedang aktif, antara lain Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG). Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di beberapa area. 

Sepekan ke Depan Kondisi El Nino

Sepekan ke depan, 19-25 Mei, BMKG mengungkap kalau Indonesia sudah berada dalam kategori El Nino Condition. Indeks Nino 3.4 sebesar +0,52 yang artinya suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator tengah-timur telah menghangat sebesar 0,52 derajat Celsius dibandingkan normalnya.

"Nilai tersebut mengindikasikan potensi penurunan aktivitas pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, khususnya bagian timur," bunyi keterangan yang dibuat Direktorat Meteorologi Publik BMKG, Senin 18 Mei 2026. 

Meskipun demikian, menurut keterangan yang sama, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan masih berada pada fase 3 di Samudra Hindia, dengan hasil filter spasial aktif di sebagian besar wilayah Indonesia. Artinya, masih ada potensi peningkatan pembentukan awan konvektif di sejumlah wilayah Indonesia meskipun berada dalam kondisi El Nino.

Dalam sepekan ke depan, kondisi atmosfer di wilayah Indonesia juga diprediksi masih dipengaruhi oleh beberapa aktivitas gelombang tropis, juga sirkulasi siklonik. "Kombinasi antara aktivitas gelombang tropis, pola sirkulasi, belokan dan perlambatan angin, serta aktivitas konvektif yang didukung dengan kelembapan yang cukup berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah yang terdampak."

Beberapa daerah tetap diberikan status Siaga sepekan ke depan. Mereka masih berpeluang mendapat guyuran hujan lebat-sangat lebat dalam periode 19-25 Mei. Di antaranya adalah Jawa Barat dan beberapa daerah di Sulawesi.

Terpisah, dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Mei 2026, BMKG memberikan peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian II Mei pada kategori Waspada. Daerahnya meliputi beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

Adapun indeks Indian Ocean Dipole masih netral. Seperti yang diprediksi, El Nino super intensif bakal terjadi tahun ini. Efek kekeringan di Indonesia bahkan bakal diperkuat oleh IOD positif yang memiliki efek serupa El Nino, hanya datangnya dari Samudra Hindia.