Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 secara quarter to quarter (QtoQ) terkoreksi sebesar 0,77 persen dibanding kuartal IV 2025. Menurutnya, ada berbagai faktor mulai dari konsumsi pemerintah yang menurun sampai kontraksi di sektor pertambangan.
Amalia menjelaskan konsumsi pemerintah pada akhir tahun memang biasanya merupakan momentum puncak. Jadi, jika dibandingkan kuartal I 2026 yang merupakan awal tahun, maka memang ada penurunan.
“Penyebabnya, tentunya dari sisi pengeluaran, itu konsumsi pemerintah juga mengalami penurunan dibanding Q4 2025 karena itu Q4 2025, karena itu kan di akhir tahun anggaran yang biasanya realisasi anggaran pemerintah itu puncaknya ada di Q4,” kata Amalia dalam rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kantor BPS, Jakarta pada Selasa (5/5)
“Selain itu ada beberapa sektor yang memang kalau memang dibandingkan dibandingkan antara Q1 2026 dengan Q4 2025 itu mengalami kontraksi misalnya sektor pertambangan, batu bara, dan juga migas,” tambahnya.
Amalia mengungkapkan ada kontraksi di sektor pembangunan yang juga menjadi faktor. Ia menjelaskan penyelesaian pembangunan infrastruktur biasanya lebih tinggi di akhir tahun atau pada Q4.
“Dan juga kalau kita perhatikan sektor konstruksi di triwulan I dibanding triwulan IV 2025 mengalami kontraksi karena kan penopangnya adalah proyek infrastruktur maupun pembangunan fisik, biasanya memang kalau dibanding sepanjang tahun Q4 selalu yang paling tinggi untuk pekerjaan fisik maupun pembangunan infrastruktur,” terang Amalia.
Meski mengalami kontraksi secara QtoQ, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·