BRIN Kembangkan SWx AI untuk Prediksi Cuaca Antariksa

Sedang Trending 1 jam yang lalu

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem bernama Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI) untuk membantu memprediksi kondisi cuaca antariksa secara lebih cepat, otomatis, dan akurat.  Sistem ini dibangun berdasarkan kerangka kerja Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS). 

Selama ini layanan cuaca antariksa masih dilakukan secara manual. Peneliti harus memeriksa berbagai data angka, membaca hasil prediksi komputer, hingga menganalisis gambar atau grafik yang cukup rumit. Proses ini membutuhkan waktu lama dan hasil analisisnya bisa berbeda-beda tergantung siapa yang membacanya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, mengatakan SWx AI diharapkan dapat membantu memprediksi kondisi cuaca antariksa. Cuaca antariksa sendiri adalah kondisi aktivitas Matahari dan ruang angkasa yang dapat memengaruhi Bumi, seperti gangguan pada satelit, sinyal komunikasi, GPS, hingga jaringan listrik.

SWx AI memanfaatkan teknologi akal imitasi (AI), khususnya large language model (LLM), yang mampu bekerja layaknya asisten pintar. Sistem ini dapat secara otomatis mengambil data terbaru dari berbagai sumber, membaca hasil prediksi komputer, hingga menganalisis gambar pengamatan Matahari tanpa harus diperiksa manual oleh manusia.

“SWx AI dirancang agar lebih aman dari kesalahan informasi atau ‘halusinasi AI’ dengan membatasi data yang dianalisis hanya pada rentang waktu tertentu, misalnya 24 hingga 72 jam terakhir, serta menggunakan aturan-aturan yang sudah ditentukan secara pasti dalam memprediksi dan menelaah kondisi antariksa di Indonesia,” kata Tiar melalui keterangan tertulis, Rabu, 13 Mei 2026. 

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN Emanuel Sungging Mumpuni berharap hasil riset terbaru ini dikenal oleh publik sehingga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak. “Kami berharap SWx AI yang terhubung pada platform layanan cuaca antariksa SWIFtS ini dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini secara cepat dan efisien serta bermanfaat bagi berbagai pihak, di antaranya sesama periset, akademisi, maupun masyarakat luas, sehingga riset ini dapat lebih aplikatif,” ungkap Sungging.

Ia berharap pengembangan SWx AI dapat mendukung layanan cuaca antariksa di Indonesia agar lebih responsif, terutama untuk mengantisipasi gangguan teknologi yang dipengaruhi aktivitas Matahari.