SELAT Hormuz masih menjadi perhatian dunia. Iran disebut mengandalkan strategi “armada nyamuk” berupa ratusan kapal kecil untuk menjaga pengaruhnya di Selat Hormuz, menurut laporan Financial Times pada Minggu 10 Mei 2026. Armada itu menjadi bagian penting strategi perang asimetris Teheran di kawasan Teluk Persia.
Menurut laporan Financial Times, kapal-kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC tersembunyi di teluk kecil, gua, dan terowongan di sepanjang pesisir selatan Iran. Saat dikerahkan, kapal-kapal itu bergerak berkelompok untuk mengganggu pelayaran dan menunjukkan kemampuan Iran mengontrol jalur strategis Hormuz.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebagian kapal hanya berupa speedboat bersenjata ringan, sementara lainnya dilengkapi rudal jarak pendek. Meski dinilai tidak cukup kuat untuk menghancurkan kapal perang besar AS, kombinasi armada cepat, rudal pantai, dan drone Iran disebut mampu menciptakan ancaman yang membuat kapal dagang dan perusahaan asuransi waspada melintasi selat tersebut.
Analis Center for Naval Analyses, Joshua Tallis, mengatakan setiap serangan terhadap kapal di Hormuz tetap menimbulkan risiko nyata bagi awak kapal maupun pelayaran internasional.
Strategi “armada nyamuk” sendiri mulai dikembangkan Iran sejak perang Iran-Irak pada 1980-an. Iran mengandalkan kapal produksi dalam negeri yang murah dan mudah diganti, termasuk model lebih canggih seperti Seraj-1 yang disebut meniru kapal balap buatan Inggris.
Financial Times menyebut Amerika Serikat memang berhasil menghancurkan sebagian armada laut konvensional Iran pada awal konflik terbaru. Namun sejumlah analis menilai kekuatan utama Iran justru berada pada armada IRGC, drone, dan rudal jelajah yang lebih fleksibel digunakan dalam perang asimetris.
Lembaga pemikir Washington Institute memperkirakan IRGC memiliki 500 hingga 1.000 kapal cepat bersenjata, ditambah lebih dari 1.000 drone laut dan baterai rudal yang ditempatkan di sepanjang pantai Iran.
Meski Amerika Serikat mengklaim telah menenggelamkan sejumlah kapal cepat Iran dalam operasi di Hormuz, Iran dinilai masih mampu mempertahankan kendali terhadap lalu lintas kapal niaga di jalur tersebut. Para analis menilai AS harus mengerahkan sumber daya besar untuk melindungi hampir seluruh kapal yang melintas, sedangkan Iran hanya perlu menciptakan ancaman terbatas untuk menekan pasar pelayaran dan energi global.
Para analis sebelumnya mengatakan kepada majalah National Defense bahwa Iran memiliki sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir, ribuan kapal cepat bersenjata rudal, serta kapal serang yang dinilai mampu menghadapi kekuatan Angkatan Laut United States di Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Sebagian kapal hanya membawa persenjataan ringan, namun beberapa lainnya dilengkapi rudal jarak pendek. Armada tersebut juga didukung sistem rudal dan drone milik Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC.
Financial Times menyebut kombinasi kekuatan itu membuat Iran tetap memiliki daya tekan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Armada kapal kecil tersebut juga dinilai menjadi salah satu kekuatan laut paling aktif milik Iran, dengan perpaduan kapal produksi domestik berbiaya murah dan model yang lebih modern. Strategi “armada nyamuk” diperkirakan tetap menjadi unsur penting dalam pengawasan Selat Hormuz meski konflik antara Iran dengan AS dan Israel mereda.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·