Umat Islam diajarkan untuk menjaga semangat spiritual dan meyakini adanya hikmah besar di balik setiap ketetapan Allah saat menghadapi musibah dalam kehidupan. Dilansir dari Cahaya, sikap ini merupakan landasan penting agar seorang muslim tidak mudah putus asa ketika diterpa ujian yang berat.
Setiap mukmin memiliki kewajiban untuk memanjatkan doa kepada Allah sebagai bentuk penghambaan di tengah masa sulit. Dr. Amirsyah Tambunan menekankan bahwa harapan dan doa yang belum terwujud dalam waktu lama seringkali memicu rasa jenuh, namun optimisme harus tetap dijaga.
Sikap optimis dimaknai sebagai upaya berjuang dengan sungguh-sungguh agar tidak terjatuh dalam frustasi. Keyakinan bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik menjadi kunci, meski terkabulnya sebuah permohonan mungkin tertunda atau diganti dengan bentuk lain yang lebih tepat.
Allah menyatakan kedekatan-Nya kepada setiap hamba yang memohon melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an. Kedekatan ini menjamin bahwa setiap doa akan didengar, selama hamba tersebut memenuhi perintah-Nya dan tetap beriman.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ dَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا dَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al Baqarah: 186).
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa terdapat dua macam kedekatan Allah, yaitu kedekatan umum melalui ilmu-Nya kepada seluruh makhluk, serta kedekatan khusus bagi mereka yang berdoa. Kedekatan khusus ini mencakup pemberian pertolongan, taufik, dan pengabulan doa, terutama saat seorang hamba berada dalam posisi paling dekat, yakni ketika sujud.
Esensi Tawakal dan Ikhtiar yang Benar
Tawakal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah harus dibarengi dengan usaha atau ikhtiar yang maksimal. Pengertian tawakal yang tepat tidak hanya sebatas menunggu hasil tanpa tindakan nyata di jalan yang benar.
Terdapat sebuah kisah tentang sahabat Nabi yang mengaku telah bertawakal namun tidak mengikat untanya. Rasulullah SAW kemudian meluruskan pemahaman tersebut dengan memerintahkan sahabat itu untuk mengikat untanya terlebih dahulu sebelum berserah diri kepada Allah.
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
"Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya lah aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (Q.S At-Taubah: 129).
Ikhlas menjadi syarat mutlak dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, di mana seluruh rahasia langit dan bumi berada dalam genggaman-Nya. Kombinasi antara ikhtiar yang optimis, doa yang konsisten, dan tawakal yang benar menjadi kekuatan bagi muslim untuk melewati segala bentuk ujian.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·