CEO Arm Rene Haas memprediksi jumlah inti pemrosesan atau core pada CPU akan melampaui GPU dalam beberapa tahun ke depan demi memenuhi tuntutan komputasi Agentic AI yang berkembang pesat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam laporan pendapatan kuartal keempat tahun fiskal 2026 baru-baru ini, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Sabtu (16/5/2026).
Haas menjelaskan bahwa pergeseran arsitektur ini dipicu oleh kebutuhan sumber daya komputasi yang luar biasa besar untuk mengoperasikan agen AI lintas beban kerja secara maksimal. Jumlah core pada arsitektur CPU server masa depan diperkirakan mampu menampung hingga empat kali lipat lebih banyak dibanding desain saat ini, sekaligus membuka peluang bisnis baru bernilai lebih dari USD 100 miliar pada tahun 2030.
Keterbatasan fisik menjadi alasan GPU tidak lagi mengambil peran utama tersebut, karena akselerator AI berbasis GPU modern seperti chip Blackwell atau Rubin buatan Nvidia sudah mendekati batas area maksimum mesin litografi. Sebaliknya, ruang pengembangan fisik untuk CPU masih jauh lebih longgar sehingga memungkinkan jumlah core berlipat ganda dalam waktu singkat.
Saat ini kompetisi pasar chip server terus meningkat dengan Arm yang baru saja meluncurkan AGI CPU berkapasitas hingga 126 core. Di sisi lain, Intel telah mengembangkan CPU server Xeon dengan 288 efficiency core (E-core) berarsitektur x86, sementara AMD diprediksi menyentuh 256 core melalui prosesor Epyc berbasis Zen 6.
Haas membayangkan lompatan desain CPU masa depan yang akan memuat 256 core hingga 512 core dalam satu chip. Dalam skenario bermuatan ratusan otak komputasi tersebut, efisiensi konsumsi listrik akan menjadi kunci penentu keunggulan di pasar semikonduktor global.
Arm dinilai sangat diuntungkan dalam persaingan era baru ini karena arsitektur mereka memiliki rekam jejak efisiensi daya yang jauh lebih tangguh. Karakteristik tersebut membuat teknologi Arm mengungguli para pesaingnya yang masih mengandalkan arsitektur x86.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·