Cerita Pria 26 Tahun Kena Kanker Berujung Amputasi Mr P, Ini Gejala Awalnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Seorang pria berusia 26 tahun mengidap kanker langka. Dia harus menjalani amputasi penis sepanjang 4 inci.

Dikutip dari laman NY Post, pada 2019, pria bernama Steven Hamill tersebut bangun di suatu pagi dengan penis yang sangat bengkak. Dia mengabaikan kondisi tersebut dan berharap akan pulih dengan sendirinya.

Namun ternyata, saat sedang menyiapkan secangkir teh, dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya melihat ke bawah dan ada darah di mana-mana, seperti di lemari, di kaki saya, dan seluruh lantai dapur," kata Hamill, dalam acara This Morning di ITV saat menceritakan pengalaman kankernya tujuh tahun lalu.

Dia kemudian memeriksakan diri ke dokter dan menepis kemungkinan kanker penis di usianya yang masih muda. Menurut dokter yang ditemuinya, kanker penis hanya menyerang pria di atas 50 tahun.

Mendengar hal tersebut, Hamill merasa lega mengira dirinya bebas dari kanker dan hanya mengalami kasus balanitis yang sangat parah. Balanitis merupakan infeksi bakteri pada kepala penis yang juga dikenal sebagai glans. Penyakit ini bisa sembuh dengan steroid topikal yang diinstruksikan dokter untuk dioleskan selama beberapa minggu.

Ketika digunakan, krim tersebut idak memberikan perubahan. Perdarahannya memang tidak kambuh lagi, tapi dia mulai merasakan sakit yang luar biasa di alat kelaminnya.

"Satu-satunya cara saya menggambarkan rasa sakit ini adalah, jika saya memiliki jarum dan terus menerus menusuk kepala saya setiap detik, tanpa ada jeda sama sekali," kata Hamill.

"Satu-satunya waktu saya bisa tidur adalah ketika tubuh saya benar-benar kelelahan dua hari kemudian, atau saya mandi slama lma jam, karena air hangat meredakannya. Rasa sakitnya memang sangat mengerikan," tambahnya.

Sekitar sebulan setelah diagnosis balanitis, sehari sebelum pernikahan saudara perempuannya, Hamill pingsan di mobil saudara laki-lakinya dan terbangun dengan darah di mana mana. Dia membutuhkan perawatan medis segera, tapi dia tidak ingin melewatkan hari besar saudara perempuannya.

"Aku cuma berpikir, 'Kau tahu apa? aku akan memakai salah satu pembalut inkontinesia dewasa itu, menaruhnya di bawah jas, dan mengatasi rasa sakitnya dengan pengobatan sendiri,'" katanya.

Setelah kembali ke rumah sakit, ahli urologi Hamill segera merujuknya ke spesialis kanker yang kemudian menyarankan Hamill untuk disunat. Tapi ternyata, dia membutuhkan lebih dari itu.

Sebagian besa penisnya telah terkikis oleh kanker yang agresif. Dia menggambarkannya seperti pisang yang digigit dari bawah.

"Ini seperti kawah besar di dalamnya," katanya.

"Kanker itu terus menggerogoti dan itulah penyebab pendarahan itu," tambah Hamill.

Hamill diberitahu bahwa ia membutuhkan operasi lain yang jauh lebih invasif di mana akan membuang sekitar 4 inci dari kepala penisnya.

Saat bersiap untuk operasi, dia bisa mengenang kecemasan dalam suara para dokter. Dia merasakan bahwa, para ahli bedah berpikir dirinya mungkin tidak akan selamat.

Untungnya dia bisa melewati operasi tersebut dengan selamat. Beberapa tahun sejak kesembuhannya hidupnya pun jauh lebih baik.

"Sekarang, saya melihat kehidupan dengan cara yang berbeda," kata Hamill. Saat ini, dirinya berupaya meningkatkan kesadaran tentang kanker penis, yang masih jarang terjadi di seluruh dunia.

(elk/elk)