Takbir berkumandang di seluruh penjuru kota. Semua orang bertakbir dan berdoa memohon kebaikan di sejuk malam Idul Adha.
Lautan jemaah memadati Masjid Istiqlal Jakarta. Mereka ada yang tiba sejak dini hari untuk menunaikan Salat Idul Adha 1447 Hijriah.
Di tengah ribuan orang itu, Andi Maulana terlihat duduk santai di salah satu sudut pelataran Masjid Istiqlal. Ia datang bersama istri dan anaknya.
Pria 46 tahun asal Bumiayu, Kabupaten Brebes, itu tidak datang ke Istiqlal sekadar untuk salat Idul Adha. Ia telah beberapa hari ini "tinggal" di masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Andi awalnya menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk mengantar istrinya yang akan bekerja di Jakarta. Ia berangkat dengan sang istri dan anaknya.
“Awalnya istri mau kerja, jadi saya nganter istri kerja,” kata Andi saat berbincang dengan kumparan usai Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal Jakarta, Rabu (27/5).
Namun rencana itu tak berjalan mulus. Setelah tiba di Jakarta hampir dua pekan lalu, pekerjaan yang diharapkan belum juga didapatkan.
“Ternyata pas sampai sini mungkin istri enggak cocok, terus mutusin cari kerja lain, tapi belum dapat juga,” ujarnya.
Di Jakarta Andi tidak punya tempat tinggal maupun keluarga yang dikenal. Ia akhirnya memutuskan untuk tinggal sementara di Masjid Istiqlal bersama istri dan anaknya.
“Jakarta ini kan beda, bukan perkampungan yang banyak orang nolong. Akhirnya kami mutusin tinggal di masjid sini. Alhamdulillah aman dan nyaman,” ujar Andi.
“Yang penting sabar dan sehat,” katanya sambil tertawa kecil.
Malam sebelum Salat Idul Adha, Andi dan keluarganya sempat harus keluar dari area masjid karena sterilisasi pengamanan menjelang kedatangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Jam 12 malam semua disuruh keluar, baru boleh masuk lagi jam 04.00 karena disterilkan,” ujarnya.
Mereka menghabiskan malam di sekitar Lapangan Banteng sebelum kembali masuk ke Istiqlal saat Subuh. Andi mengaku sudah berada di area masjid sejak pukul 04.00 pagi untuk mengikuti Salat Id.
“Lumayan berjubel juga sih. Untungnya kami datang lebih awal,” candanya.
Meski hanya berada di saf belakang, Andi tetap merasa senang bisa salat bersama ribuan jemaah dan para pejabat negara.
“Pengamanannya bagus, apalagi karena ada Wapres Gibran juga. Jadi ya kesempatan buat bisa salat bareng,” ujarnya.
Di sela hidup yang serba tidak pasti, Andi mencoba menjalani hari-harinya dengan sederhana. Ia mengaku lebih banyak beribadah selama tinggal di Istiqlal dan sempat mengikuti iktikaf menjelang Idul Adha.
“Kalau dulu pas puasa itu niatnya iktikaf. Kalau sekarang benar-benar lagi ikhtiar,” katanya sambil tertawa.
Untuk makan sehari-hari, Andi mengandalkan bantuan yang kadang datang dari petugas di sekitar masjid.
“Alhamdulillah, walaupun enggak punya uang, untuk makan sehari-hari masih ada bantuan. Kadang bisa minta bantuan ke polisi yang jaga pos,” ujarnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Andi mengaku tak ingin mengeluh.
“Siapa sih yang mau hidup susah? Enggak ada. Saya juga maunya hidup normal. Tapi ya mungkin jalannya memang begini dulu,” katanya.
“Yang penting ikhlas dan jangan mengeluh. Toh yang lebih susah dari saya juga banyak," lanjutnya.
Selama tinggal di Istiqlal, Andi mengaku banyak melihat kisah serupa dari para pendatang lain yang datang membawa harapan masing-masing ke Jakarta.
“Di sini juga saya ketemu banyak orang dengan cerita suka dukanya masing-masing. Jadi bukan cuma saya saja,” tegasnya.
Ia sendiri belum tahu sampai kapan akan bertahan di Istiqlal. Semua bergantung pada pekerjaan yang belum juga datang.
“Saya enggak bisa prediksi sampai kapan. Paling sampai istri saya dapat kerja dan saya juga dapat kerjaan,” katanya.
Di tengah gema takbir dan ramainya jemaah Idul Adha di Istiqlal, Andi menjalani hari raya dengan cara yang berbeda. Datang dengan bus ke Jakarta untuk mengantar istri bekerja, ia justru berakhir menjadikan masjid terbesar di Asia Tenggara itu sebagai tempat berteduh sambil terus berdoa dan berharap.
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·