China Batasi Talenta AI Alibaba dan DeepSeek Bepergian ke Luar Negeri

Sedang Trending 10 jam yang lalu

Pemerintah China mulai memperketat ruang gerak para ahli kecerdasan buatan (AI) lokal untuk bepergian ke luar negeri. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya perlindungan teknologi dalam negeri sekaligus mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat di sektor AI.

Badan pemerintahan Negeri Tirai Bambu tersebut kini memberlakukan pembatasan perjalanan internasional bagi individu yang dinilai krusial dalam industri kecerdasan buatan, seperti dikutip dari Detik iNET.

"Artinya, orang-orang yang dianggap penting dan strategis harus mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang sebelum bepergian ke luar negeri," kata sumber Bloomberg yang tidak ingin namanya disebut.

Kebijakan penahanan dokumen perjalanan ini sebenarnya bukan hal baru di China. Selama bertahun-tahun, pembatasan serupa telah menyasar para ilmuwan nuklir, akademisi dari universitas papan atas, hingga petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kendati demikian, perluasan kebijakan ke sektor swasta tergolong sebagai langkah yang tidak biasa. Biasanya, penyimpanan paspor secara resmi hanya berlaku bagi eksekutif senior BUMN dan pejabat Partai Komunis China.

Pembatasan baru ini menyasar sejumlah profesi di industri AI, mulai dari pendiri perusahaan rintisan (startup), peneliti senior, hingga level eksekutif. Penentuan nama yang masuk ke dalam daftar cekal tidak lagi berdasarkan struktur jabatan semata.

Otoritas terkait memasukkan nama individu ke daftar pembatasan perjalanan berdasarkan evaluasi terhadap signifikansi kontribusi mereka kepada negara, melampaui faktor senioritas posisi atau tempat mereka bekerja.

Kebijakan ini mempertegas posisi para insinyur dan peneliti AI elit sebagai aset strategis nasional. Mayoritas talenta terbaik ini lahir pasca-tren ChatGPT dan berkarir di raksasa teknologi serta startup swasta seperti Alibaba dan DeepSeek.

Dampak bagi Industri Swasta

Kendati bertujuan melindungi aset digital, regulasi ketat ini memicu kekhawatiran baru. Aturan tersebut berpotensi menggerus kemampuan korporasi AI di China dalam merekrut serta mempertahankan talenta global, sekaligus meningkatkan kecemasan atas intervensi pemerintah.

Sebelum pembatasan ketat ini diumumkan, beberapa insinyur di sektor swasta memang sudah diwajibkan melaporkan rencana perjalanan luar negeri mereka, meski sebelumnya tidak selalu memerlukan izin resmi.

Langkah pengetatan ini menjadi eskalasi dari imbauan sebelumnya. Pada tahun 2025, otoritas China sempat meminta para pendiri dan peneliti AI untuk menghindari kunjungan ke Amerika Serikat, meskipun saat itu belum berwujud larangan total.