China Kerahkan Kapal Induk Liaoning ke Selat Taiwan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Militer China mengerahkan kapal induk Liaoning untuk melintasi Selat Taiwan pada Senin, 21 April 2026, bersamaan dengan dimulainya latihan militer gabungan Balikatan antara Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang di wilayah Pasifik.

Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa pergerakan armada laut tersebut merupakan transit pertama kapal induk China di jalur air sensitif itu sejak akhir tahun lalu. Selain Liaoning, Jepang mendeteksi kapal Baotao dan fregat Huanggang yang berlayar di antara Amami Oshima dan Pulau Yokoate pada Minggu, 19 April 2026.

Komando Teater Timur militer China menyatakan pengerahan ini bertujuan untuk menguji kemampuan operasi laut jauh pasukan sesuai dengan rencana tahunan. Langkah ini juga dipandang sebagai respons atas pelayaran kapal perusak Jepang di Selat Taiwan beberapa hari sebelumnya.

"Hal ini sesuai dengan hukum dan praktik internasional, dan tidak menargetkan negara atau entitas tertentu," kata juru bicara komando Kolonel Senior Xu Chenghua.

Penegasan mengenai legalitas operasi tersebut disampaikan Xu untuk menjelaskan bahwa pengerahan kapal perang merupakan bagian dari latihan rutin yang telah dijadwalkan secara sistematis.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memberikan peringatan keras terkait manuver militer sekutu di dekat wilayah mereka dalam konferensi pers pada Senin.

"Tindakan ini secara serius merusak fondasi politik hubungan China-Jepang serta mengancam kedaulatan dan keamanan China. China dengan tegas menentang hal tersebut dan telah menyampaikan protes keras kepada Jepang," kata Guo Jiakun.

Dia menambahkan bahwa kerja sama pertahanan yang dianggap ceroboh oleh sejumlah negara dapat memicu ketidakstabilan keamanan yang lebih luas di kawasan tersebut.

"Ini adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. China mendesak Jepang untuk segera kembali ke jalur yang benar, berhati-hati dalam perkataan dan tindakan, serta menghentikan langkah yang semakin menjauh dari jalan yang benar," ujarnya.

Pemerintah China juga menyoroti potensi munculnya paham militerisme baru yang dianggap dapat mengganggu kedamaian regional Pasifik Barat.

"Kami sekali lagi mendesak pihak Jepang untuk merefleksikan dan memperbaiki kebijakan serta perilakunya, melakukan penyelidikan menyeluruh, dan memikul tanggung jawab penuh atas insiden tersebut," tegas Guo.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, Zhang Xiaogang, menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah tegas untuk memantau pelayaran kapal perang asing di Selat Taiwan.

"Tindakan Jepang ini merupakan provokasi yang disengaja, kesalahan yang berulang, dan menimbulkan pertanyaan mengenai maksud sebenarnya," kata Zhang Xiaogang.

Latihan Balikatan sendiri dijadwalkan berlangsung hingga 8 Mei 2026 dengan melibatkan ribuan personel militer dan sistem rudal anti-kapal untuk mengantisipasi potensi konflik di kawasan Taiwan.