Dari Amerika sampai China, Basket Membawa Berlian Yesi Keliling Dunia

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Berlian Yesi (kanan) bersiap melakukan free-throw pada laga playoff putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Kamis (21/5). Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Berlian Yesi Triutari tak pernah menyangka basket akan membawanya sejauh ini. Olahraga itu perlahan menjadi jalan hidup yang membawanya ke kota-kota yang jauh, mengenal dunia, hingga mengenakan jersi Timnas Indonesia.

Semua perjalanan itu dimulai dengan langkah yang sederhana. Saat duduk di kelas lima SD di Blitar, Jawa Timur, Yesi kecil iseng mengikuti ekstrakurikuler basket karena sering main bersama tetangga. Tak ada mimpi besar saat itu. Ia bahkan tak pernah membayangkan suatu hari akan terbang ke Amerika Serikat hingga China karena bola basket.

Perjalanan basketnya baru mulai serius ketika ia masuk SMP Negeri 1 Blitar yang dikenal punya tradisi basket kuat. Dari sana, bakat basketnya perlahan berkembang bersama tim sekolah bernama Basudewa. Perjalanannya kemudian berlanjut saat bergabung dengan GMC Cirebon yang jadi salah satu SMA dengan tim basket kuat di Jawa Barat.

Latihan demi latihan dijalani, beragam turnamen juga dilewati. Hingga namanya mulai dikenal sebagai salah satu pemain muda potensial.

Berlian Yesi (tengah) melakukan dunk pada laga playoff putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Kamis (21/5). Foto: Dok. Campus League

Puncaknya datang saat Yesi terpilih menjadi DBL (Developmental Basketball League) All-Star selama tiga tahun beruntun pada 2023, 2024, dan 2025. Kesempatan itu membawanya terbang ke Amerika Serikat, negara yang sebelumnya hanya ia lihat lewat televisi dan media sosial.

Bagi Yesi, pengalaman pertama pergi ke luar negeri langsung menuju Amerika terasa seperti mimpi yang terlalu besar untuk dipercaya.

“Pertama kali ke luar negeri langsung ke Amerika Serikat. Aku tuh kayak ‘wow’, senang banget. Enggak bisa dijelasin,” ujarnya sambil tersenyum saat berbincang dengan Campus Sport Indonesia di UPI Gymnasium, Bandung pada Kamis (21/5).

Di Amerika Serikat, Yesi belajar lebih dari sekadar teknik basket. Ia melihat langsung bagaimana disiplin dan mentalitas menjadi bagian penting dalam kehidupan atlet. Ia juga memahami bahwa basket modern menuntut pemain untuk terus berkembang tanpa batas posisi.

“Sekarang basket tuh semua harus bisa apa aja. Big man harus bisa shooting, dribble. Jadi enggak cuma satu posisi doang,” katanya.

Berlian Yesi (kiri) berjabat tangan dengan Elok Rahmadani (kanan) sebelum laga final putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Jumat (22/5). Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Namun perjalanan basket Yesi tak selalu berjalan mulus. Pada 2024, ia mengalami cedera ankle cukup parah saat menjalani persiapan Timnas menuju SeaABA Thailand. Kakinya bengkak, warnanya ungu. Cedera itu membuatnya trauma saat bermain.

“Aku masih takut waktu main. Habis latihan pasti bengkak lagi,” ucap Yesi soal cedera yang dialaminya di 2024.

Dalam kondisi belum pulih sepenuhnya, performanya sempat menurun. Ia bahkan gagal melanjutkan perjalanan bersama tim menuju kualifikasi FIBA Women’s Asian Cup U-18 2024. Situasi itu menjadi pukulan berat bagi Yesi yang sedang berada dalam performa terbaiknya.

Tetapi Yesi memilih bertahan. Ia tetap datang latihan meski menahan sakit. Tetap menjalani pemulihan sambil menjaga mimpinya hidup. Sebab bagi Yesi, basket sudah menjadi tanggung jawab yang harus ia perjuangkan.

Perjuangan dan kesabaran itu akhirnya membawa student-athlete Universitas Kristen Maranatha tersebut kembali mengenakan jersi Merah Putih. Pada April 2026, ia mendapat panggilan membela Timnas Basket 3x3 Indonesia di Asian Beach Games 2026 di Sanya, China. Lagi-lagi, basket membawanya ke tempat yang sebelumnya hanya bisa ia bayangkan.

“Aku kira Sanya itu kompetisi yang kayak FIBA (turnamen) biasa gitu, ternyata kayak Olimpiade ya gede banget, cabang olahraganya banyak, terus kualitasnya tuh gede banget gitu. Berangkat sampai sana tuh kayak wah keren ya ternyata kayak suatu kebanggaan terus cari pengalaman baru,” tutur pemain yang kini baru menginjak 19 tahun itu.

Berlian Yesi akan memberikan umpan kepada rekannya pada laga playoff putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Kamis (21/5). Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Bagi Yesi, momen di China terasa sangat spesial. Ia bermain bersama senior-senior tim nasional yang selama ini ia kagumi. Dari sana, ia belajar tentang komunikasi, defense, hingga bagaimana menghadapi tekanan di level internasional.

Tetapi di balik semua perjalanan itu, ada satu hal yang selalu menjadi alasan terbesar Yesi terus bertahan: keluarga. “Aku pengin bahagiain orang tua,” katanya lirih.

Sebagai anak ketiga di keluarganya, Yesi merasa semua pencapaian yang ia dapatkan lewat basket adalah cara untuk membuat kedua orang tuanya bangga. Dari lapangan kecil di Blitar hingga arena internasional di Amerika dan China, Berlian Yesi kini tahu satu hal pasti–basket telah membawanya melihat dunia.

instagram embed