Pada tahun 2024, untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan modern, rata-rata suhu tahunan global melampaui ambang 1,5 derajat Celsius di atas suhu era pra-industri. Bukan sekadar rekor statistik, angka itu adalah sinyal bahaya bagi kesehatan miliaran manusia. Romanello et al. (2025) dalam laporan tahunan kesembilan Lancet Countdown on Health and Climate Change yang diterbitkan di The Lancet mencatat bahwa tingkat kematian akibat panas telah meningkat 23 persen sejak dekade 1990-an, mendorong rata-rata 546.000 kematian per tahun. Rata-rata setiap orang di dunia terpapar 16 hari panas berbahaya pada 2024 yang tidak akan terjadi tanpa perubahan iklim.
Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia adalah darurat kesehatan publik yang sedang berlangsung sekarang, di setiap negara dan di setiap lapisan masyarakat. Romanello et al. (2024) dalam laporan kedelapan Lancet Countdown melaporkan bahwa 10 dari 15 indikator pemantauan ancaman kesehatan mencapai rekor mengkhawatirkan.
Pada 2023, manusia terpapar rata-rata 50 hari lebih banyak suhu mengancam kesehatan dibandingkan jika iklim tidak berubah, dan kekeringan ekstrem melanda 48 persen wilayah daratan global. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres merespons laporan tersebut dengan tegas: emisi yang terus memecahkan rekor sedang menimbulkan ancaman kesehatan yang memecahkan rekor pula.
Di antara ancaman yang paling nyata adalah perluasan penyakit bawaan vektor. Perubahan suhu dan pola curah hujan memperluas habitat nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles ke wilayah-wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Sebuah studi proyeksi yang diterbitkan di The Lancet Planetary Health memperkirakan bahwa tambahan 4,7 miliar orang berpotensi berisiko terpapar malaria dan dengue pada tahun 2070 akibat perubahan iklim (Wellcome, 2024).
Bagi Indonesia, angka ini bukan abstraksi: Kementerian Kesehatan RI (2026) mencatat bahwa perubahan suhu dan pola curah hujan diperkirakan akan meningkatkan penularan penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD), yang siklus hidup nyamuk vektornya menjadi lebih cepat dalam kondisi cuaca yang tidak stabil.
Polusi udara adalah wajah lain dari krisis iklim yang sama. Pembakaran bahan bakar fosil tidak hanya memanaskan planet, tetapi juga mengotori udara yang dihirup miliaran orang setiap hari. Kementerian Kesehatan RI (2025) dalam dokumen Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Kesehatan 2025-2030 mencatat bahwa sekitar 45 persen kematian anak akibat infeksi saluran pernapasan bawah akut di Indonesia disebabkan oleh polusi udara rumah tangga. Di tingkat global, WHO (melalui laporan Lancet Countdown 2025) mencatat bahwa pengurangan polusi dari batu bara saja telah menghindari rata-rata 160.000 kematian dini per tahun antara 2010 dan 2022, sebuah bukti langsung bahwa aksi iklim adalah aksi kesehatan.
Ada dimensi yang sering luput dari perbincangan: hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim memperlemah ketahanan ekosistem yang menjadi penyangga kesehatan manusia. Ketika ekosistem terganggu, spillover zoonosis, yaitu perpindahan patogen dari hewan ke manusia, menjadi lebih mungkin terjadi. Keslan Kemenkes RI (2024) mengingatkan bahwa perubahan iklim mempengaruhi faktor lingkungan seperti kualitas air, udara, dan makanan, sekaligus meningkatkan risiko penyakit zoonosis dan penyakit bawaan air yang memperparah beban sistem kesehatan nasional.
Indonesia berada di posisi yang sangat rentan. Sebagai negara kepulauan tropis dengan kepadatan penduduk tinggi dan beban penyakit infeksi yang sudah berat, setiap derajat kenaikan suhu global memperburuk kondisi yang sudah ada. Kementerian Kesehatan RI (2025) memproyeksikan kematian terkait panas akan meningkat menjadi sekitar 53 kematian per 100.000 penduduk pada tahun 2080 jika tidak ada tindakan adaptasi yang signifikan. Ini bukan skenario terburuk yang jauh di masa depan; ini adalah lintasan yang sedang kita jalani sekarang.
Kabar baiknya adalah bahwa aksi iklim dan aksi kesehatan menunjuk ke arah yang sama. Romanello et al. (2025) mencatat bahwa pertumbuhan energi terbarukan mencapai rekor 12 persen dari listrik global pada 2024, menciptakan 16 juta lapangan kerja, sekaligus mengurangi polusi udara yang membunuh. Dua pertiga mahasiswa kedokteran di seluruh dunia sudah menerima pendidikan tentang iklim dan kesehatan pada 2024, sebuah pergeseran paradigma yang penting meski masih perlu dipercepat.
Masalahnya adalah kecepatan. Investasi terus mengalir ke bahan bakar fosil. Emisi masih memecahkan rekor. Dan sementara itu, nyamuk terus memperluas wilayah jelajahnya, udara terus memburuk, dan orang-orang terus jatuh sakit karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Kemenkes RI telah melangkah dengan Rencana Aksi Nasional 2025-2030, tetapi rencana di atas kertas hanya bermakna jika ada implementasi di lapangan, anggaran yang memadai, dan komitmen lintas sektor yang tidak berhenti di pertemuan koordinasi.
Perubahan iklim bukan krisis lingkungan semata. Ia adalah krisis kesehatan dengan wajah yang sudah dikenali: bangsal rumah sakit yang penuh di musim penghujan, anak-anak dengan gangguan pernapasan di kota-kota berpolusi, dan lansia yang tidak selamat dari gelombang panas. Kita sudah tahu penyebabnya. Yang kurang bukan pengetahuan, melainkan keberanian untuk bertindak cukup cepat.
39 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·