Data Analis Como Dani Suryadi Sebut Indonesia Bisa ke Piala Dunia, tapi...

Sedang Trending 55 menit yang lalu

13 Mei 2026 21.00 WIB • 2 menit

Data Analis Como Dani Suryadi Sebut Indonesia Bisa ke Piala Dunia, tapi...

images info

Data Analis Como Dani Suryadi Sebut Indonesia Bisa ke Piala Dunia, tapi...


Dani Suryadi kini dikenal sebagai analis sepak bola asal Indonesia yang bekerja untuk klub Italia, Como 1907. Sosok satu asal Bandung ini sudah memiliki pengalaman mengingat sudah lebih dari empat tahun bekerja untuk klub Serie A yang tengah naik daun itu.

Tugasnya yaitu meliputi menganalisa permainan sepak bola melalui tayangan video. Tentu ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Dani mengingat ia melamar pekerjaan di menit akhir penutupan.

“Awalnya di 2021 saya melihat kesempatan bergabung dengan Como. It was open for public. Terus last minute saya apply, terus kayak nothing to lose saya apply. Ternyata sangat cepat sekali prosesnya,” kata Dani kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Proses penerimaan menjadi staf di Como rupanya hanya dua bulan saja. Dani lantas dipanggil kembali untuk seleksi tahap lanjut dan mengetahui kompetitornya banyak. Setelah mengeluarkan potensinya di seleksi, ia akhirnya diterima bekerja pada 2022.

“Jadi semuanya sangat clear, transparan, dan tidak seperti banyak gosip di Indonesia. It was fair clear. Hadi beneran saya mengikuti seleksi sesuai aturan mainnya,” ungkapnya.

Lingkungan Sepak Bola Eropa

Setelah bertahun-tahun di tanah Eropa di mana sepak bola berkembang pesat, Dani menjadi mengetahui seluk beluk bagaimana sepak bola didesain sedemikian rupa. Seperti pembibitan dan pembinaan pemain lebih lanjut dan menyeluruh dilihatnya Eropa melakukannya lebih maju ketimbang Indonesia.

Dani menegaskan ada banyak riset untuk membentuk pemain hebat dan berstandar Eropa yang sudah diketahuinya. Dari banyak faktor, ia menyebut lingkungan tempat pemain bertumbuh menjadi yang berpengaruh.

“Lingkungannya seperti apa? Lingkungannya sesehat apa? Saya kira itu yang membentuk atletism. Saya kira itu yang yang dimiliki Jay Idzes yang bermain di Eropa termasuk Emil Audero. Mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan dan mereka tahu seperti apa karena lingkungannya support dengan itu,” ucap Dani.

Bagi Dani sendiri lingkungan para pemain hidup memang di luar teknis dari berlatih. Dari situ para pemain pun mendapat sesuatu dari kehidupan sehari-hari yang berharga saat bermain di dalam lapangan pertandingan.

“Bukan teknikal saja, tapi ada hal-hal tidak terlihat yang harus dilatih dan mereka melakukan itu belasan tahun, puluhan tahun di lingkungan yang tepat dan membentuk mereka menjadi seperti apa,” ujarnya lagi.

Indonesia ke Piala Dunia

Lolos ke Piala Dunia adalah dambaan bagi setiap negara termasuk Indonesia. Sayangnya sepanjang sejarah negara ini berdiri tim nasionalnya belum juga ke turnamen empat tahunan tersebut.

Segala formula pernah dicoba salah satunya dengan menggalakkan proyek pemain naturalisasi. Namun, ternyata dengan menaturalisasi tetap belum membuahkan hasil yang didambakan banyak pencinta sepak bola tanah air.

Sepak bola Indonesia memang masih perlu banyak pembenahan sana-sini dari dulu hingga kini. Meskipun begitu, ada kalanya Indonesia pernah ada di titik hampir lolos di mana terakhir terjadi pada kualifikasi Piala Dunia 2026. Dani sendiri merasa bisa saja Indonesia ke Piala Dunia kala itu walaupun sebagai tim kejutan.

“Semuanya bisa terjadi, tetapi itu akan mengejutkan. Buat kita semua akan mengejutkan sekali kalau Indonesia kemarin lolos Piala Dunia. Itu suatu achievement yang luar biasa,” ucap Dani.

Dani mengaku akan senang apa bila Indonesia bisa ke Piala Dunia. Akan tetapi, tolok ukur mengembangkan sepak bola tidak semata-mata lewat prestasi tim nasional. Perlu ada pembenahan secara struktural dalam meningkatkan kultur sepak bola di Indonesia supaya nantinya bisa berimbas bagi tiap insan yang terlibat di dalamnya.

“Menurut saya goals-nya bukan tentang Cuma Timnas saja. Bagaimana environment-nya hidup, bagaimana pelatih lokal hidup, bagaimana antarkecamatan punya tempat untuk bermain bola, bagaimana orang tua tidak perlu berpikir punya uang berapa anaknya bisa masuk SSB. Artinya negara hadir. Harusnya kita berpikir bahwa menanam tomat hari ini bukan buat dimakan besok, tetapi untuk kemudian dipetik beberapa bulan kemudian,” kata Dani.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini