Data Inflasi AS dan Pertemuan Trump&Xi Jinping Jadi Fokus Pasar Dunia

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Kondisi ekonomi global pada pekan ini diprediksi akan dibayangi oleh perpaduan antara perlambatan aktivitas ekonomi dan tekanan inflasi yang tetap tinggi. Situasi tersebut diperparah oleh dampak konflik di Iran yang memengaruhi harga energi serta rantai pasok dunia.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, perhatian para investor global saat ini tertuju pada rilis data inflasi dari Amerika Serikat (AS), China, dan India. Angka-angka tersebut diproyeksikan menjadi indikator utama bagi arah kebijakan bank sentral di masa mendatang.

Selain data ekonomi, pasar juga menantikan pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Momen ini terjadi di tengah spekulasi pasar mengenai transisi kepemimpinan di Federal Reserve (The Fed).

Di Amerika Serikat, muncul keyakinan bahwa The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini dipicu oleh data tenaga kerja periode April yang kembali melampaui ekspektasi pasar secara signifikan.

Meskipun data payroll AS menunjukkan pertumbuhan solid selama dua bulan berturut-turut, tingkat pengangguran justru mengalami kenaikan menjadi 4,34% dari sebelumnya 4,26%. Kondisi ini mengindikasikan adanya celah kerentanan di pasar tenaga kerja Paman Sam.

Fokus utama jatuh pada data Consumer Price Index (CPI) atau inflasi AS April yang dijadwalkan rilis pada Selasa. Bloomberg Economics memproyeksikan inflasi bulanan melandai ke angka 0,6% dari 0,9% pada Maret, namun dinilai tetap berada pada level yang panas.

Secara tahunan, inflasi AS diperkirakan tertahan di level 3,7%, sementara inflasi inti berpotensi naik menjadi 2,7% dari 2,6%. Kenaikan harga bensin yang mencapai 7% pada April menjadi faktor dominan yang menekan biaya transportasi hingga tiket pesawat.

Dinamika Ekonomi di Kawasan Asia

Beralih ke Asia, China menunjukkan tren ekonomi yang kontras di mana indeks harga produsen (PPI) meningkat tajam, tetapi inflasi konsumen cenderung lemah. PPI China pada April diperkirakan melonjak menjadi 1,8% dari posisi 0,5%.

Kenaikan PPI tersebut mencerminkan pembengkakan biaya di tingkat pabrik akibat mahalnya bahan baku dan energi. Namun, lemahnya inflasi konsumen di angka 0,9% menunjukkan bahwa permintaan domestik di China masih belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, India menghadapi tantangan inflasi pangan yang dipicu oleh cuaca ekstrem dan fenomena El Nino. Inflasi India diperkirakan naik menjadi 3,5%, sementara defisit perdagangan diprediksi melebar hingga US$26,2 miliar akibat tingginya impor nonmigas.

Korea Selatan juga melaporkan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 2,9%. Sektor manufaktur petrokimia di negara tersebut mulai terdampak oleh gangguan rantai pasok global dan lonjakan harga bahan baku industri secara umum.

Agenda Penting Pekan Kedua Mei 2026

Para pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda krusial yang berlangsung sepanjang pekan ini di berbagai belahan dunia.

Senin, 11 Mei 2026

Indonesia dijadwalkan merilis indeks keyakinan konsumen, sementara China mengeluarkan data inflasi dan PPI. Di AS, Senat akan memulai pemungutan suara terkait nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru.

Selasa, 12 Mei 2026

Data inflasi AS dan India akan menjadi sorotan utama pada hari ini. Selain itu, Menteri Keuangan Australia Jim Chalmers dijadwalkan mengumumkan anggaran pemerintah pertama setelah kemenangan Partai Buruh pada pemilu 2025.

Rabu, 13 Mei 2026

Rilis data PDB Zona Euro dan produksi industri menjadi agenda penting di Eropa. Raja Inggris Charles III juga dijadwalkan membuka Sidang Parlemen untuk menyampaikan agenda legislasi pemerintah kerajaan.

Kamis, 14 Mei 2026

Presiden Donald Trump dijadwalkan memulai kunjungan resminya ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Pertemuan ini dinilai sangat krusial bagi stabilitas hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Jumat, 15 Mei 2026

Masa jabatan Ketua The Fed Jerome H. Powell resmi berakhir pada hari ini. Meskipun jabatannya sebagai ketua selesai, Powell sebelumnya mengisyaratkan akan tetap berada dalam jajaran Dewan Gubernur hingga tahun 2028.