Delapan Jam di Jalan: Menjajal Napas Baru B50 dari Lembang ke Cirebon

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Seorang teknisi laboratorium berpose dengan sampel bahan bakar B50 saat acara pengujian biodiesel sawit di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Selasa (21/04/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Siang itu, udara Lembang masih sejuk ketika mesin bus berbasis Mercedes-Benz dinyalakan. Tidak ada yang benar-benar berbeda dari tampilan luarnya kursi, kabin, hingga suara mesin terdengar familiar. Tapi hari itu, perjalanan yang ditempuh bukan sekadar lintasan Lembang–Cirebon. Ini adalah uji rasa, uji mesin, sekaligus uji keyakinan: bagaimana bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) bekerja di jalan nyata.

Perjalanan dimulai dari Lembang menuju Cirebon. Empat jam pertama terasa seperti perjalanan antarkota biasa melewati Pasteur, masuk tol Cikampek, hingga keluar di jalur pantura menuju Cirebon. Namun di balik laju roda, ada sesuatu yang diuji yakni campuran biodiesel 50 persen yang mulai diproyeksikan menjadi standar nasional.

Di balik kemudi, Atang, sopir bus yang sudah tiga bulan menjajal B50, berbagi kesannya. Ia tidak bicara dalam angka-angka teknis. Tidak ada grafik konsumsi atau perbandingan liter per kilometer. Yang ada adalah pengalaman langsung di jalan mulai dari tarikan mesin, respons pedal, dan rasa kendaraan saat menanjak atau melaju di tol panjang.

“Kalau masalah tarikan enak,” kata Atang.

Road test B50 di Lembang hingga Cirebon, Selasa (21/4/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Bus terus melaju, stabil, tanpa gejala tersendat. Bagi Atang, yang sudah terbiasa dengan berbagai jenis bahan bakar biodiesel sebelumnya, perbedaan justru terasa sebagai perbaikan bertahap.

“Dari yang B30 ke B50 ini jauh lebih ringan, lebih ringan. Jadi tiap tahap itu lebih bagus. Lebih enak,” ungkapnya.

Perjalanan mencapai Cirebon setelah sekitar empat jam. Di sini, bus berhenti bukan sekadar untuk istirahat, tapi juga mengisi bahan bakar. Momen ini menjadi bagian penting dari uji coba: bagaimana pengisian, bagaimana respons mesin setelah perjalanan panjang.

Tak lama setelah itu, perjalanan berbalik arah. Empat jam berikutnya membawa rombongan kembali ke Lembang, melewati rute yang sama, kembali menembus jalur Subang dengan tanjakan yang menguji performa mesin.

Di sepanjang perjalanan, Atang menegaskan bahwa dari sisi operasional, ia tidak merasakan perbedaan signifikan dibanding bahan bakar sebelumnya, setidaknya dalam hal keandalan mesin.

“Saya bilang bagus, enak, itu nggak ada sama sekali endapan selama saya pakai ini. Normal-normal aja,” kata dia.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi dalam uji coba B50 di Lembang, Selasa (21/4). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Di level kebijakan, pengalaman di jalan itu menjadi bagian kecil dari pengujian besar yang sedang dilakukan pemerintah. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa uji coba B50 tidak hanya dilakukan pada bus, tetapi lintas sektor dan lintas jenis kendaraan.

“Sembilan (kendaraan) diuji coba. Dan kali ini pabrikannya bukan hanya pabrikan Jepang, pabrikan Eropa juga ikut,” kata Eniya.

Uji coba ini mencakup kendaraan penumpang hingga kendaraan berat, bahkan merambah sektor lain seperti pertanian, tambang, hingga maritim.

Tak hanya jumlah kendaraan, kualitas bahan bakar juga menjadi perhatian. Menurut Eniya, hasil uji sementara menunjukkan performa yang tetap sesuai dengan klaim pabrikan.

“Jadi kalau klaimnya 11 ini tadi 11,04 gitu. Jadi angkanya malah berubah cuma di dua digit terakhir. Jadi sesuai klaim pabrikan malahan,” ungkapnya.

Seorang teknisi laboratorium menunjukkan sampel Biodiesel B50 saat acara pengujian bahan bakar nabati tersebut sebagai bagian dari rencana strategis pemerintah di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Selasa (21/04/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Target besar dari seluruh pengujian ini adalah implementasi nasional pada 1 Juli 2026. “Insyaallah sesuai dengan iya sesuai dengan arahan bisa 1 Juli,” tuturnya.

Lebih jauh, program B50 juga diarahkan untuk menekan ketergantungan impor energi. Dengan sebagian kebutuhan bahan bakar digantikan oleh biodiesel berbasis sawit, pemerintah melihat peluang penghematan devisa sekaligus penguatan ketahanan energi. Hingga April 2026, penyaluran biodiesel sudah mencapai sekitar 3,90 juta kiloliter atau 24,9 persen dari alokasi tahunan.

Jika implementasi B50 berjalan penuh mulai Juli, penghematan devisa diproyeksikan meningkat menjadi Rp 157,28 triliun pada 2026. Di saat yang sama, program ini juga diperkirakan menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja serta menurunkan emisi hingga 46,72 juta ton CO₂.