Malam terus merangkak naik. Di sudut kamarnya yang begitu mewah, seorang wanita setengah baya duduk lemas sambil memeluk lututnya.
Di luar jendela kamarnya, hujan jatuh satu-satu seperti ayat-ayat Tuhan yang gagal dibaca manusia.
Namanya Maryam.
Hari itu ibunya meninggal dunia. Kenyataan ini membuat hatinya hancur lebur berkeping-keping. Maryam tak kuat menerimanya. Inilah fakta kematian yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
Malam itu, ia merasa doa-doa panjangnya, yang selama ini ia gantungkan di langit, ternyata tak pernah kembali sebagai mukjizat.
Maryam merasa semesta hanyalah ruang kosong yang dingin. Ia merasa, di sana Tuhan terlalu lama berdiam diri.
Ia pernah belajar filsafat. Pernah tenggelam dalam pemikiran eksistensialisme, yang membaca manusia sebagai makhluk yang dilempar ke dunia tanpa pegangan. Ia juga pernah belajar fisika kuantum, tentang partikel-partikel kecil yang menari dalam ketidakpastian.
Namun, malam itu, seluruh teori itu runtuh di hadapan satu fakta sederhana: bahwa ia telah kehilangan ibunya yang paling ia cintai.
Tangannya gemetar.
“Tuhanku, apa sebenarnya arti penderitaan itu?” batinnya.
Tak ada jawaban di sana.
Hanya detak jam dinding yang terdengar seperti langkah kaki seorang algojo.
Air matanya jatuh, dan mengalir deras.
Dan di saat itulah sesuatu yang ganjil terjadi dalam batinnya. Ia teringat pelajaran biologi tentang air mata. Bahwa air mata manusia bukan sekadar cairan garam. Di dalamnya terdapat hormon stres, jejak kesedihan, bahasa kimiawi tubuh ketika jiwa tak lagi mampu menanggung sendirian beban hidup ini.
Air mata adalah laboratorium kecil tempat tubuh membakar luka kehidupan, agar manusia tidak meledak dari dalam.
Maryam tiba-tiba tersadar bahwa kesedihan ada manfaatnya. Tak ada yang sia-sia di sana. Setiap tangis ternyata mempunyai struktur makna yang khas. Seolah-olah Tuhan menyembunyikan kasih sayang-Nya di balik anatomi penderitaan.
Maryam menatap tetes air mata di ujung jarinya. Begitu kecil. Namun, di dalamnya terkandung seluruh sejarah luka manusia sejak Nabi Adam turun ke bumi.
Air mata adalah sungai purba yang mengalir dari hati setiap manusia menuju langit. Dan mungkin, pikir Maryam, Tuhan selalu hadir bukan di podium kemenangan. Bukan di riuhnya tepuk tangan. Tuhan justru hadir di tempat manusia merasa dirinya paling hancur. Tuhan hadir di dada mereka yang retak oleh perihnya penderitaan hidup. Tuhan hadir di sajadah yang basah oleh air mata. Tuhan hadir di mata yang sembab lantaran kehilangan orang yang paling dicintai.
Maryam teringat bagaimana bintang-bintang bermunculan begitu indahnya di cakrawala. Dalam ilmu astronomi, bintang gemintang tercipta dari keruntuhan awan gas raksasa, yang runtuh oleh gravitasinya sendiri hingga menghasilkan cahaya. Semakin besar tekanannya, semakin terang nyalanya.
Barangkali, hidup manusia seperti itu juga. Rohaninya akan kian bercahaya saat batinnya runtuh oleh penderitaan.
Tanpa mengalami luka kehidupan, manusia hanyalah benda biologis yang berjalan layaknya mayat hidup. Penderitaan hidup adalah gravitasi jiwa, agar manusia menemukan cahaya di dalam dirinya sendiri.
Malam makin larut.
Hujan belum jua reda.
Maryam berjalan keluar rumahnya tanpa tujuan. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota seperti serpihan surga yang tercecer di bumi. Di sudut trotoar, ia melihat seorang anak kecil sedang memayungi ibunya yang lumpuh dengan tubuh kurusnya sendiri. Anak itu tetap tersenyum, meski tubuhnya menggigil.
Maryam terpaku dan begitu terharu melihatnya. Ternyata di tengah kemiskinan, masih ada cinta di sana. Di tengah kehancuran hidup seseorang, masih ada kasih sayang di sana. Di tengah derita hidup yang tak kunjung selesai, masih ada tangan yang saling menggenggam penuh cinta.
Dan...
Tiba-tiba Maryam memahami sesuatu yang selama ini gagal ia mengerti: bahwa Tuhan tidak selalu hadir sebagai jawaban. Terkadang, Tuhan hadir sebagai kekuatan agar kita mampu dan kuat untuk tetap bertahan hidup. Terkadang, Tuhan tidak menghilangkan badai—Ia menjadi napas di paru-paru mereka yang hampir tenggelam. Terkadang, Tuhan tidak menghilangkan luka kehidupan, agar manusia mampu menerima takdirnya.
Tangis maryam meledak lagi.
Namun, tangisnya kali ini sungguh berbeda. Tangis itu tak lagi terasa seperti jurang derita yang menganga. Tangis itu menjadi seperti sungai yang membersihkan debu-debu keputusasaan dari jiwanya.
Ia merasa Tuhan ternyata sangat dekat. Begitu dekatnya sampai tersembunyi di balik denyut nadinya sendiri.
Ia sadar bahwa manusia sering mencari Tuhan dalam keajaiban besar, padahal Tuhan kadang hadir sebagai kemampuan sederhana agar kita tetap hidup setelah seluruh alasan untuk hidup runtuh.
Langit perlahan terang.
Fajar muncul seperti rahasia yang akhirnya dibuka semesta. Burung-burung mulai bernyanyi.
Dan Maryam memahami satu hal yang tak pernah diajarkan pada buku filsafat mana pun: bahwa air mata bukan tanda Tuhan meninggalkan manusia.
Justru sebaliknya.
Air mata adalah bukti bahwa Tuhan masih menyentuh hati manusia, lantaran hanya hati yang masih hidup yang mampu merasa sakit.
Karena di setiap air mata penuh derita itu, Tuhan sedang duduk diam di dasar hati manusia—menunggu untuk ditemukan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·