Di layar ponsel yang sama, dalam satu pagi seseorang bisa melihat berita kecelakaan, kekerasan, konflik sosial, hingga cerita kehilangan yang terasa begitu dekat, bahkan ketika jarak kejadiannya ratusan kilometer. Di titik ini, banyak orang, termasuk saya, mulai bertanya sebenarnya apa yang masih bisa kita kendalikan? Dan mungkin bertanya lebih dalam lagi: apakah semua memang harus kita kendalikan?
Secara psikososial, manusia memang tidak dirancang untuk hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan. Otak kita menyukai prediktabilitas. Dalam kerangka Uncertainty Reduction Theory, individu cenderung berusaha mengurangi ketidakpastian untuk merasa aman dan stabil.
Namun, ketika dunia menjadi terlalu kompleks dengan arus informasi yang cepat, tragedi yang berulang, dan tekanan sosial ekonomi yang meningkat, mekanisme ini justru bisa berbalik menjadi sumber kecemasan. Ketika seseorang merasa semua hal harus dikendalikan seperti external events, masa depan, bahkan perilaku orang lain, maka beban mental meningkat drastis. Padahal, realitas hidup bekerja dengan logika yang jauh lebih liar daripada ekspektasi manusia.
Dan di Indonesia saat ini, kondisi ini terasa sangat nyata. Data menunjukkan peningkatan paparan berita negatif, mulai dari kecelakaan transportasi, kekerasan anak, hingga ketimpangan sosial yang semakin terlihat di ruang digital. Paparan ini tidak hanya menjadi informasi, tetapi juga membentuk persepsi bahwa dunia semakin tidak aman, meskipun pada saat yang sama, banyak indikator pembangunan justru menunjukkan perbaikan.
Di sinilah konsep acceptance atau penerimaan realitas menjadi relevan. Bila merujuk pada beberapa penelitian yang menguji pendekatan ‘menerima realitas’, penerimaan bukan berarti menyerah, tapi justru adalah bentuk keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita, dan itu tidak apa-apa.
Masalahnya, dalam budaya modern kita sekarang yang menuntut kita untuk selalu “kuat”, “produktif”, dan “punya solusi”, menerima sering dianggap sebagai kelemahan. Padahal, justru di sanalah ruang pemulihan dimulai. Karena ketika semua hal dipaksakan untuk dikendalikan, yang muncul bukan ketenangan, melainkan kelelahan yang tidak terlihat.
Namun, kita sering lupa satu hal yang sangat sederhana: hidup tidak pernah benar-benar berada dalam genggaman penuh kita. Kita bisa merencanakan hari, tapi tidak bisa menjamin bagaimana hari itu berjalan.
Kita bisa berangkat kerja lebih pagi untuk menghindari macet, tapi tetap terjebak karena kecelakaan di tol. Kita bisa memastikan anak berangkat ke sekolah dengan aman, tapi tetap dihantui berita kekerasan di daycare atau kasus perundungan yang tiba-tiba viral. Kita bisa bekerja keras bertahun-tahun, tapi satu kabar PHK massal bisa mengubah semuanya dalam hitungan hari.
Banyak orang di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, atau Surabaya menjalani hari dengan ritme yang hampir sama: bangun pagi, mengecek berita, melihat kabar buruk, lalu tetap harus berangkat kerja seolah semuanya baik-baik saja. Di jalan, ada rasa waspada. Di kantor, ada tekanan target. Di rumah, ada tanggung jawab keluarga. Dan di sela-sela itu semua, ada pikiran kecil yang terus bertanya:
“Sebenarnya hidup ini aman tidak sih?”
Pertanyaan itu valid dan sangatlah manusiawi, karena ketika ketidakpastian datang dari banyak arah sekaligus, baik dari aspek ekonomi, sosial, dan keamanan, jadinya otak kita mencoba mengimbanginya dengan satu cara: mengendalikan sebanyak mungkin hal.
Kita jadi ingin memastikan semuanya aman, kita ingin tahu semua informasi, dan berupaya untuk mengantisipasi semua kemungkinan buruk. Tapi di titik tertentu, itu justru membuat kita semakin lelah. Karena semakin banyak yang kita coba kendalikan, semakin terasa bahwa ada terlalu banyak hal yang berada di luar jangkauan kita.
Dan di sinilah mungkin kita perlu jujur pada diri sendiri: bukan kita yang kurang kuat, tapi beban yang kita coba pegang memang terlalu besar. Kita tidak bisa mengendalikan kondisi lalu lintas di seluruh kota, tidak bisa memastikan semua tempat aman seratus persen, dan juga tidak bisa menghentikan semua berita buruk yang muncul setiap hari.
Tapi kita bisa mulai memilih ulang mana yang benar-benar perlu kita pegang, dan mana yang perlu kita lepaskan. Misalnya, kita tidak bisa menghentikan berita kecelakaan, tapi kita bisa memilih untuk tidak terus-menerus menonton videonya berulang kali.
Kita tidak bisa menghapus kekhawatiran sebagai orang tua, tapi kita bisa membangun komunikasi yang lebih dekat dengan anak, bukan hanya rasa takut. Kita pun tidak bisa mengontrol ekonomi nasional, tapi kita sangat bisa mengatur ritme hidup kita agar tidak terus-menerus berada dalam mode panik.
Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap sepele, padahal justru di situlah letak keseimbangan itu dibangun. Karena hidup tidak berubah dari hal besar yang tiba-tiba sempurna, melainkan hidup berubah dari keputusan-keputusan kecil yang lebih jujur. Dan mungkin, salah satu keputusan paling jujur yang bisa kita ambil hari ini adalah ini: tidak semua harus kita kendalikan.
Di tengah situasi Indonesia yang serba dinamis seperti sekarang, kemampuan untuk menerima ini bukan tanda pasrah. Justru ini adalah bentuk adaptasi yang sehat. Karena kalau kita terus hidup dalam mode siaga, tubuh kita tidak pernah benar-benar beristirahat. Pikiran tidak pernah benar-benar tenang. Dan dalam jangka panjang, itu yang justru membuat kita lebih rentan, secara mental, bahkan secara fisik.
Sebaliknya, ketika kita mulai memberi ruang untuk tidak mengendalikan semuanya, ada sesuatu yang pelan-pelan kembali: rasa cukup. Cukup untuk hari ini, cukup untuk langkah berikutnya, dan cukup untuk tetap menjalani hidup tanpa harus tahu semuanya. Dan dari situ, kita mulai bisa melihat hal-hal yang selama ini tertutup oleh kecemasan.
Di tengah semua berita buruk, masih ada orang-orang yang saling membantu saat kecelakaan terjadi. Bahwa di tengah tekanan ekonomi, masih ada keluarga yang tetap saling menjaga, dan di tengah ketidakpastian, masih ada kehidupan yang berjalan pelan, tapi nyata. Mungkin dunia memang tidak sedang baik-baik saja, tapi bukan berarti kita harus ikut hancur bersamanya.
Kita masih bisa memilih untuk tetap hadir dengan utuh, tetap bekerja dengan jujur, tetap pulang ke rumah dengan membawa diri yang tidak sepenuhnya terkuras. Dan itu cukup. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang memastikan semuanya aman. Hidup adalah tentang tetap berjalan, bahkan ketika rasa aman itu tidak selalu ada.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·