Menteri Luar Negeri Amerika Serikat era Barack Obama, Hillary Clinton, melakukan kesalahan penerjemahan kata "reset" ke dalam bahasa Rusia saat bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey V. Lavrov di Swiss pada 6 Maret 2009. Insiden unik ini terjadi di tengah upaya Washington memperbaiki hubungan diplomatik dengan Moskow yang sempat renggang akibat konflik di Georgia serta rencana perluasan NATO.
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, pertemuan tersebut menjadi momen simbolis ketika Hillary menyerahkan sebuah tombol plastik merah sebagai tindak lanjut atas seruan Wakil Presiden Joseph R. Biden Jr. Sebelumnya, Biden mendorong kedua negara untuk menekan tombol reset guna memulai babak baru kerja sama strategis pasca ketegangan bertahun-tahun.
Hillary Clinton menegaskan upaya timnya dalam menyiapkan hadiah simbolis tersebut agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan tepat oleh pihak Rusia.
"Kami bekerja keras untuk mendapatkan kata bahasa Rusia yang tepat," kata Hillary.
Setelah menyerahkan tombol yang memuat kata bahasa Inggris "reset" dan kata bahasa Rusia "peregruzka" tersebut, Hillary menanyakan keakuratan pilihan kata tersebut kepada rekannya.
"Menurut Anda, apakah kami berhasil?" tanya Hillary.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey V. Lavrov, langsung memberikan koreksi secara terbuka bahwa kata yang tertera pada tombol merah tersebut memiliki makna yang berbeda dari maksud aslinya.
"Anda salah," jawab Lavrov.
Diplomat senior Rusia tersebut kemudian mengklarifikasi bahwa istilah "peregruzka" secara harfiah berarti kelebihan beban atau tagihan berlebih, bukan memulai kembali atau reset sebagaimana yang dimaksudkan oleh pihak Amerika Serikat.
"Kami tidak akan membiarkan Anda melakukan itu kepada kami," kata Lavrov sembari tertawa terbahak-bahak.
Meskipun terjadi kekeliruan linguistik, suasana pertemuan tetap cair dan diwarnai gelak tawa dari kedua belah pihak yang kemudian melaporkan adanya pertukaran positif dalam dialog tersebut. Lavrov sempat melontarkan candaan mengenai harapan agar insiden ini memicu peningkatan minat studi bahasa Rusia di Amerika Serikat.
Menanggapi koreksi dari Lavrov, Hillary Clinton memberikan pembelaan bernada gurauan terkait beban kerja yang sedang mereka hadapi dalam mengelola hubungan kedua negara.
"Menteri mengoreksi pilihan kata kami. Tetapi dalam arti tertentu, kata yang ada di tombol ternyata juga benar," kata Hillary.
Pernyataan tersebut merujuk pada realitas bahwa proses normalisasi hubungan diplomatik yang sedang berjalan memang memberikan beban kerja yang ekstra besar bagi kedua departemen luar negeri.
"Kami sedang melakukan reset, dan karena kami melakukan reset, saya dan menteri memiliki 'beban kerja berlebih'," kata Hillary.
Walaupun pertemuan berakhir dengan kesepakatan kerja sama, kesalahan penerjemahan pada tombol merah tersebut tetap menjadi sorotan dan bahan olok-olok oleh berbagai media di Rusia selama beberapa waktu.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·