DIREKTUR Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan program Golden Visa telah berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Ia mengklaim program tersebut menyumbang realisasi investasi senilai Rp 52,1 triliun.
“Saat ini kita sudah mencapai angka Rp 52,1 triliun,” kata Hendarsam kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut Hendarsam, program Golden Visa yang diterbitkan sejak 2024 membuka jalan bagi talenta global, diaspora, dan investor asing yang ingin berkontribusi di Indonesia. “Dan itu merupakan angka yang cukup baik buat kita untuk meningkatkan devisa kita,” ujar dia.
Selain investasi, Hendarsam menyebut program Golden Visa juga menyumbang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 19 miliar. Ia mengatakan jumlah penerima program tersebut telah melampaui target awal pemerintah.
“Dari yang tadinya ditargetkan 1.000 penerima, saat ini jumlahnya sudah mencapai 1.200 lebih, jadi sudah lebih dari target,” katanya.
Golden Visa merupakan izin tinggal yang diberikan kepada warga negara asing (WNA) dalam kategori tertentu, seperti investor, tenaga ahli asing, tokoh dunia, hingga eks-WNI beserta keturunannya. Pemerintah memberikan izin tinggal itu dengan masa berlaku lima hingga sepuluh tahun serta sejumlah fasilitas bagi pemegangnya.
Fasilitas tersebut antara lain akses jalur prioritas di bandara, kemudahan layanan keimigrasian, serta kepastian hukum untuk berinvestasi dan berkarya di Indonesia.
Hendarsam menegaskan Direktorat Jenderal Imigrasi juga meningkatkan pengawasan terhadap WNA guna mencegah penyalahgunaan izin tinggal maupun pelanggaran hukum. Menurut dia, pengawasan dilakukan sejak WNA masuk ke Indonesia hingga kembali ke negara asalnya melalui tim pengawasan orang asing.
Pihak imigrasi juga bekerja sama dengan kepolisian untuk menindak penyalahgunaan izin tinggal dan tindak kriminal. Hendarsam mencontohkan penindakan kasus judi online di Batam dan Jakarta Barat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa negara kita bukan safe haven buat orang-orang yang tidak bermanfaat dan bahkan merugikan bangsa kita,” ujar Hendarsam.
Pilihan Editor: Mengapa Sindikat Kejahatan Transnasional Terus Menjamur
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·