Dirut Bulog siap ekspor beras harga bersaing sesuai perintah Presiden

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan siap menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengekspor beras Indonesia dengan harga bersaing demi menjaga kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan perekonomian nasional.

"Kalau kami siap. Begitu ada perintah, kami siap akan melaksanakan perintah tersebut. Sesuai dengan arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto)," kata Rizal kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Sebelumnya, dalam peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5), Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung langsung kesiapan Bulog menghadapi peluang ekspor beras Indonesia.

Di tengah pidatonya, Presiden tiba-tiba memanggil Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani yang berada di bawah panggung. Prabowo mengingatkan agar beras Indonesia tidak dijual terlalu murah saat masuk pasar ekspor.

“Dirut Bulog mana?” tanya Presiden. “Siap,” jawab Rizal singkat.

Baca juga: Bulog pastikan beras SPHP tetap terjangkau untuk masyarakat

Prabowo kemudian melanjutkan pesannya kepada Bulog agar tetap menjaga nilai jual beras Indonesia demi kepentingan petani dalam negeri.

“Jangan jual terlalu murah ya,” kata Presiden. “Siap bapak,” jawab Rizal. “Jangan ngetok tapi jangan jual terlalu murah,” lanjut Prabowo.

Presiden menegaskan kondisi pangan global masih penuh ketidakpastian sehingga Indonesia harus tetap berhati-hati menjaga cadangan beras nasional sambil membuka peluang ekspor ke negara lain.

“Ingat, krisis bisa lama ini. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu,” ujar Prabowo, yang kembali dijawab siap oleh Direktur Utama Bulog.

Presiden Prabowo mengungkapkan terdapat sejumlah negara mulai menjalin komunikasi dengan Indonesia untuk membeli beras di tengah situasi pangan global yang semakin tidak menentu. Permintaan datang dari berbagai negara, termasuk negara-negara tetangga di kawasan.

Menurut Presiden, beberapa negara yang sebelumnya merasa lebih kuat dalam urusan pangan kini justru mulai membuka komunikasi dengan Indonesia untuk meminta pasokan beras.

"Mereka-mereka yang lebih hebat dari kita. Yang menganggap dirinya lebih hebat dari kita. Tapi sekarang datang ke Indonesia minta boleh nggak kita beli beras?," ujar Prabowo.

Ia mengatakan terdapat beberapa negara yang masih terlihat berhati-hati dan belum secara terbuka menyampaikan permintaan karena masih mencoba mencari pasokan dari negara lain.

Baca juga: Mengembalikan padi Nusantara ke peta beras dunia

Namun situasi berubah setelah India memutuskan menghentikan ekspor beras, jagung, dan gandum demi menjaga kebutuhan pangan domestiknya sendiri. Langkah itu kemudian diikuti Bangladesh yang juga menutup keran ekspor pangan.

"India tutup. Disusul oleh Bangladesh tutup. Akhirnya ada juga negara-negara yang akhirnya datang juga ke kita,” kata Presiden.

Meski demikian, Prabowo menegaskan Indonesia tetap akan membantu negara lain yang membutuhkan pangan. Namun ia meminta agar harga ekspor tetap menguntungkan petani dalam negeri dan tidak membuat petani menjadi pihak yang dirugikan.

“Saya bilang beri. Kalau mereka butuh kita harus bantu. Kita jual kepada mereka, tapi harganya ya yang oke lah. Jangan petani kita korban. Harga harus minimal untung dikit,” ujar Prabowo.

Mengenai hal itu, Dirut Bulog mengaku siap bergerak cepat dalam menjalankan penugasan pemerintah, termasuk dalam pengelolaan cadangan beras pemerintah hingga distribusi pangan nasional. Karena itu, setiap arahan yang diberikan akan segera dieksekusi.

“Kalau ada perintah kan segera kita eksekusi, segera kita tindaklanjuti,” katanya.

Meski demikian, Rizal mengaku hingga saat ini Bulog belum mengetahui secara pasti jumlah beras yang nantinya akan disiapkan untuk kebutuhan ekspor. Menurut dia, komunikasi terkait permintaan antarnegara dilakukan langsung pada level kepala negara.

“Kita belum tahu, berapa yang dimintain, kita kan belum tahu. Yang komunikasi beliau saya nggak tahu. Ini kan (komunikasi sesama) kepala negara,” ujar Rizal.

Perum Bulog hingga Sabtu (16/5), mengelola 5,32 juta ton stok cadangan beras pemerintah yang tersimpan di seluruh gudang perusahaan BUMN pangan tersebut.

Untuk ekspor beras, Bulog saat ini sedang tahap negosiasi harga dengan negara Malaysia. Rencana ekspor ke negara tetangga mencapai 200 ribu ton dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun.

Rizal menyebut pihak Malaysia mengajukan harga di bawah Rp10.000 per kilogram (kg), sementara Bulog menginginkan harga yang lebih tinggi sesuai kualitas beras yang ditawarkan.

“Mereka menawar (harga) di bawah Rp10.000 per kg,” ujarnya.

Menurut dia, harga yang diajukan Indonesia berada pada kisaran Rp13.000 per kg hingga Rp14.000 per kg karena beras yang ditawarkan masuk kategori premium.

Baca juga: Mentan: Gudang sewa Bulog penuh, swasembada pangan menguat

Baca juga: Dirut Bulog: Stok beras 5,3 juta ton berkat peran lintas sektor

Baca juga: Bulog bidik orkestrator logistik global dengan profesional-adaptif

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.