Dokter PPIH Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Suhu Panas Arab Saudi

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Dokter Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKPPJH) PPIH Arab Saudi, dr M Fathi Banna AL F, memperingatkan jemaah haji Indonesia terkait potensi suhu panas ekstrem di Arab Saudi pada Senin (20/4/2026). Cuaca di Mekah dan Madinah diperkirakan jauh lebih tinggi dibandingkan suhu di tanah air.

Kondisi cuaca di Arab Saudi saat ini mulai memasuki awal musim panas, sebagaimana dilansir dari Cahaya. Berdasarkan pantauan terkini, suhu di Kota Mekah telah menyentuh angka 39 derajat Celcius, sementara di Madinah tercatat mencapai 38 derajat Celcius.

Peningkatan suhu diprediksi terus terjadi hingga mencapai puncaknya saat fase Armuzna atau wukuf di Arafah. Pada periode tersebut, suhu udara diperkirakan dapat menembus angka 40,5 derajat Celcius.

"Suhu di Saudi saat musim haji sebenarnya memasuki awal musim panas. Namun suhunya tetap lebih tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia," kata Fathi, dokter fungsi PKPPJH PPIH Arab Saudi.

Perbedaan iklim yang signifikan ini menuntut persiapan fisik yang matang dari setiap jemaah. Karakteristik cuaca di Mekah dan Madinah yang lebih panas dan kering berisiko memicu gangguan kesehatan selama pelaksanaan ibadah.

"Bagaimana pun juga perlu persiapan karena perbedaan suhu Mekah dan Madinah yang lebih panas dan kering (daripada Indonesia) bisa saja menimbulkan risiko dan dikhawatirkan mengganggu proses ibadah," papar dia.

Salah satu ancaman kesehatan utama bagi jemaah adalah dehidrasi akibat penguapan cairan tubuh yang sangat cepat. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh jemaah karena keringat yang muncul langsung menguap sebelum terasa di kulit.

"Yang pertama jika suhunya tinggi mudah terjadi penguapan. Tubuh lebih mudah berkeringat tapi enggak terasa, karena keringatnya menguap. Kalau tubuh kekurangan cairan akan timbul dehidrasi," kata dia.

Selain dehidrasi, udara kering juga memicu masalah kesehatan pada area mulut dan bibir. Hal ini dapat berdampak pada nafsu makan dan asupan energi jemaah karena munculnya sariawan hingga bibir yang pecah-pecah dan berdarah.

"Akhirnya makan pun jadi tidak enak. Energinya berkurang dan cairan juga kurang karena bibir kering bisa menimbulkan efek tersebut," paparnya.

Sebagai langkah pencegahan, dr Fathi menyarankan jemaah untuk selalu membawa botol minum. Pola konsumsi air harus dilakukan secara berkala tanpa perlu menunggu rasa haus datang agar sirkulasi cairan tubuh tetap terjaga.

"Minum dua teguk setiap sepuluh menit," katanya.

Metode meminum air sedikit demi sedikit dalam rentang waktu singkat dinilai efektif menggantikan cairan yang hilang. Selain hidrasi internal, jemaah juga diimbau menjaga kelembapan bibir menggunakan produk pelindung khusus.

"Perlu membawa pelembab bibir di keterangan ada kandungan petroleum jelly biar tidak mudah kering," katanya.

Upaya pendinginan suhu tubuh bagian luar juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan alat semprot air. Langkah-langkah preventif ini sangat penting mengingat jemaah haji Indonesia dijadwalkan mulai mendarat di Arab Saudi pada April 2026.

"Untuk membantu menjaga suhu bagian luar tubuh," ujar dia.

Berdasarkan kalender kegiatan, puncak ibadah haji atau wukuf di padang Arafah dijadwalkan berlangsung pada 26 Mei 2026. Seluruh jemaah diharapkan telah melakukan adaptasi dan persiapan kesehatan sebelum tanggal tersebut.