Donald Trump Ancam Lanjutkan Serangan Militer ke Iran

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan militer ke Iran dalam beberapa hari mendatang guna menekan Teheran agar menyepakati perjanjian damai, Selasa (19/5). Langkah ini kembali mengancam kelangsungan gencatan senjata yang sebelumnya sempat bertahan.

Ancaman ini muncul hanya berselang sehari setelah Donald Trump mengklaim telah membatalkan serangan udara ke wilayah Iran, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Konflik yang terjadi sejak akhir Februari lalu ini dipicu oleh penolakan Teheran untuk menyerahkan sisa-sisa elemen program nuklir mereka.

Eskalasi ketegangan tersebut memicu kekhawatiran global terkait potensi pecahnya pertempuran terbuka yang lebih luas. Selain itu, kondisi ini berdampak langsung pada penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman energi dunia.

"Saya berharap kita tidak harus mengobarkan perang, tetapi kita mungkin harus memberi mereka satu serangan besar lagi," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Donald Trump juga menegaskan batas waktu yang ia berikan bagi perkembangan proses negosiasi perdamaian dengan pihak Teheran.

"Maksud saya, saya berbicara tentang dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu. Atau sesuatu di awal pekan depan — dalam periode waktu yang terbatas," lanjut Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Di koridor pemerintahan Amerika Serikat, kebijakan luar negeri ini memicu dinamika internal yang cukup tajam. Senat Amerika Serikat yang dikuasai oleh Partai Republik secara formal menunjukkan penolakan terhadap kelanjutan konfrontasi bersenjata.

Melalui pemungutan suara prosedural, para senator mengkhawatirkan beban keuangan warga menjelang pemilu paruh waktu. Senator Bill Cassidy dari Louisiana bersama tiga senator Republik lainnya turut berbalik mendukung resolusi penghentian permusuhan tersebut.

Dampak ekonomi global tercatat cukup signifikan dengan lonjakan harga minyak Brent yang kini diperdagangkan di atas US$110 per barel. Tekanan ekonomi domestik Amerika Serikat juga meningkat seiring kenaikan harga bahan bakar ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.

"Kami pikir telah membuat banyak kemajuan, kami pikir Iran ingin membuat kesepakatan," kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

JD Vance mengonfirmasi adanya rencana cadangan militer meskipun opsi tersebut bukan menjadi prioritas utama dari pemerintahan saat ini.

"Namun itu bukan yang diinginkan presiden," tambah JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Pihak administrasi menyatakan kesiapan militer tetap disiagakan sembari memantau respons diplomatik pihak lawan.

"Dan saya rasa itu juga bukan yang diinginkan Iran," lanjut JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Sebelumnya, penundaan rencana pemboman yang sedianya dilakukan pada hari Selasa disebut terjadi karena adanya permintaan dari sekutu regional. Negara Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab menjadi pihak yang meminta penangguhan tersebut.

Dinamika pasar keuangan turut merespons ketidakpastian ini secara fluktuatif. Sejumlah pengamat komoditas menilai dampak psikologis dari pernyataan berkala ini mulai mengalami penurunan sensitivitas di lantai bursa.

"Intervensi verbal penuh gertakan dari Trump dulu berdampak bearish besar terhadap harga, tetapi sekarang pengaruhnya tampak semakin kecil kecuali didukung kenyataan," kata Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas SEB AB.

Bjarne Schieldrop menilai situasi negosiasi formal antara kedua belah pihak masih mengalami jalan buntu yang cukup berat.

"Sejauh yang kami lihat, belum ada kemajuan nyata dalam negosiasi antara AS dan Iran, dengan kedua pihak masih bertahan pada tuntutan masing-masing," tutur Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas SEB AB.

Ketegangan regional ini juga sempat diwarnai insiden serangan pesawat tanpa awak ke pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab. Pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa mengonfirmasi pasokan listrik di fasilitas tersebut kini telah kembali normal.