Donald Trump Sebut Negosiasi Kesepakatan AS dan Iran Berjalan Sangat Baik

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran terkait kesepakatan sementara kini berjalan dengan sangat baik. Perundingan ini bertujuan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada hari Senin (25/5), seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Isyarat positif ini memperkuat sinyal bahwa AS dan Iran kian dekat menuju kesepakatan damai.

Merespons kabar tersebut, harga minyak mentah dunia langsung anjlok 5% dengan Brent merosot di bawah US$100 per barel. Di sisi lain, pergerakan bursa saham global justru bergerak menguat.

Trump juga mendesak Arab Saudi, Qatar, dan negara-negara lain untuk bergabung dalam Abraham Accords. Optimisme serupa datang dari Panglima Militer Pakistan, Asim Munir, yang bertindak sebagai mediator utama antara kedua belah pihak.

Asim Munir menyampaikan kepada pihak China bahwa kesepakatan damai sudah hampir tercapai. Sementara itu, delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf telah melakukan perjalanan ke Doha untuk berkonsultasi.

Gubernur bank sentral Iran Abdolnaser Hemmati turut dalam rombongan tersebut untuk membahas pencairan dana Iran yang dibekukan. Meski demikian, AS dan Israel masih harus menyelesaikan sejumlah detail penting terkait jalur maritim.

Detail tersebut mencakup izin lintas bebas kapal di Selat Hormuz dan kecepatan pencairan miliaran dolar dana Iran. Teheran tetap bersikeras memiliki kewenangan mengelola lalu lintas maritim di jalur strategis tersebut.

Posisi Iran ini dipertahankan sejak perang pecah akibat serangan AS-Israel pada Februari lalu. Namun, AS, negara-negara Arab, dan Eropa menilai tuntutan pengelolaan sepihak tersebut tidak dapat diterima.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran mulai menjauh dari gagasan mengenakan tarif tol di Selat Hormuz. Sebagai gantinya, mereka akan mengenakan biaya untuk layanan navigasi.

AS dan Iran sedang merundingkan kesepakatan jangka pendek untuk memperpanjang gencatan senjata sekitar dua bulan. Dalam periode ini, AS akan mencabut blokade laut dan Teheran membuka kembali Selat Hormuz.

Iran menegaskan bahwa gencatan senjata harus mencakup seluruh lini depan pertempuran, termasuk Lebanon. Namun, Israel yang tidak terlibat langsung dalam negosiasi menolak gagasan perluasan gencatan senjata tersebut.

Menteri Energi Israel Eli Cohen menegaskan posisi negaranya melalui siaran radio Galey Israel terkait kesepakatan tersebut.

"Kami akan memastikan kebebasan bertindak Israel di semua lini depan tetap terjaga," kata Eli Cohen.

"Israel tidak akan terikat pada kesepakatan apa pun yang tidak menghilangkan seluruh ancaman terhadapnya — nuklir, rudal balistik, dan pendanaan bagi organisasi teroris."

Pakta sementara ini dinilai menjadi langkah besar menuju berakhirnya perang yang menewaskan ribuan orang di Timur Tengah. Konflik ini juga memberi tekanan politik bagi Trump karena mayoritas warga Amerika menentang perang.

Trump memberikan pandangannya mengenai urgensi kepastian dari hasil akhir perundingan tersebut di media sosial.

"Ini hanya akan menjadi kesepakatan besar untuk semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali — kembali ke medan perang dan baku tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya," kata Trump.

"Dan tidak ada yang menginginkan itu!"

Gencatan senjata jangka panjang diharapkan dapat menenangkan situasi di Timur Tengah. Langkah ini juga dinilai mampu meredakan kekhawatiran Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang sempat menjadi sasaran rudal sebelum jeda konflik 8 April.

Namun, kedua belah pihak masih harus merundingkan pembatasan program nuklir Teheran setelah kesepakatan sementara tercapai. AS bersikeras agar Iran menyerahkan lebih dari 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.

Washington juga meminta komitmen Teheran untuk menghentikan pengayaan uranium selama sekitar 20 tahun. Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan dari kelompok garis keras termasuk Senator Partai Republik Lindsey Graham.

Trump membandingkan perundingan ini dengan kesepakatan nuklir era pemerintahan sebelumnya yang dinilai gagal.

"Ini akan menjadi kebalikan total dari bencana JCPOA yang dinegosiasikan pemerintahan Obama yang gagal," kata Trump.

Seruan Trump agar lebih banyak negara bergabung dalam Abraham Accords dipandang sebagai upaya meredam kritik dalam negeri. Arab Saudi dan Qatar sendiri menyatakan tidak akan mengakui Israel sebelum ada kejelasan status kenegaraan bagi Palestina.