Donald Trump Sebut Terduga Pelaku Penembakan Washington Alami Gangguan Jiwa

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan terkait insiden penembakan di acara makan malam koresponden Gedung Putih di hotel Hilton Washington DC pada Senin, 27 April 2026. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detikcom, Trump menyebut terduga pelaku sebagai sosok yang mengalami gangguan kejiwaan serius.

Pernyataan tersebut merujuk pada temuan dokumen berupa manifesto sepanjang 1.052 kata yang diduga ditulis oleh tersangka sebelum melancarkan aksinya. New York Post melaporkan bahwa tersangka mengirimkan tulisan tersebut kepada anggota keluarganya tepat sepuluh menit sebelum serangan dimulai di lokasi kejadian.

Otoritas terkait telah mengidentifikasi tersangka sebagai Cole Tomas Allen, seorang pria berusia 31 tahun yang berprofesi sebagai guru dan insinyur dari Torrance, Los Angeles. Di dalam dokumen tersebut, pelaku disebut mencantumkan daftar pejabat administrasi sebagai target serangan yang disusun berdasarkan prioritas jabatan tertinggi hingga terendah.

"Orang itu orang sakit jiwa," kata Trump, Presiden AS.

Penegasan mengenai kondisi mental tersangka ini disampaikan Trump dalam sebuah sesi wawancara melalui sambungan telepon yang disiarkan oleh saluran berita Fox News. Hingga saat ini, pihak media ABC menyatakan belum melakukan verifikasi independen terhadap keaslian isi manifesto yang beredar tersebut.

Selain laporan penembakan, peristiwa alam juga melanda wilayah utara Jepang pada Senin pagi pukul 05.24 waktu setempat. Survei Geologi AS mencatat gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Richter mengguncang titik 18 kilometer sebelah barat Kota Sarabetsu di Hokkaido tanpa adanya laporan korban jiwa langsung.

Di bidang olahraga, pelari asal Kenya, Sabastian Sawe, mencetak sejarah baru di Maraton London pada hari Minggu dengan catatan waktu satu jam, 59 menit, dan 30 detik. Sawe berhasil memecahkan rekor dunia sebelumnya yang dipegang oleh mendiang Kelvin Kiptum.

"Saya saya bahagia, ini adalah hari yang akan selalu saya ingat," kata Sawe, Pelari Maraton.

Sawe mengungkapkan kegembiraannya saat melihat papan waktu di garis finis setelah merasa sangat kuat menjelang akhir perlombaan. Ia menekankan bahwa persiapan matang menjadi kunci keberhasilannya meraih prestasi di London untuk kedua kalinya.

"Kami memulai perlombaan dengan baik. Menjelang garis finis, saya merasa kuat. Akhirnya mencapai garis finis, saya melihat waktu dan merasa sangat gembira," kata Sawe, Pelari Maraton.

"Saya sangat bangga atas kerja keras hari ini. Kehadiran saya di London untuk kedua kalinya sangat penting dan itulah mengapa saya mempersiapkan diri dengan baik," kata Sawe, Pelari Maraton.

Sementara itu, Australia menerapkan regulasi baru bagi kreator konten di Tasmania yang kini diwajibkan membayar AU$100 untuk melakukan perekaman di taman nasional. Kebijakan Lisensi Usaha Penggemar ini mulai diberlakukan sejak Desember lalu guna menyederhanakan proses perizinan yang sebelumnya dianggap rumit.

Influencer Michael Atkinson, yang dikenal dengan nama Outback Mike, memberikan perbandingan mengenai skema perizinan lama yang menuntut biaya jauh lebih tinggi. Menurutnya, aturan terdahulu sangat membebani para kreator konten kecil dari sisi finansial.

"[Berdasarkan aturan sebelumnya], saya harus punya asuransi tanggung jawab publik sebesar AU$20 juta, menghabiskan sekitar AU$450 (Rp5,5 juta), mengajukan permohonan 28 hari sebelumnya dan, bagi saya, itu tidak sepadan dengan jumlah uang tersebut," kata Atkinson, Influencer.

"Biaya itu akan lebih besar daripada yang akan saya hasilkan dari konten yang dibayar, jadi saya memutuskan untuk melanjutkan pendakian saya tanpa membuat konten," kata Atkinson, Influencer.