Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertolak ke Beijing pada Selasa (12/05) untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Cina Xi Jinping guna membahas krisis di Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pertemuan yang dilansir dari Detikcom ini dijadwalkan berlangsung pada 14 dan 15 Mei 2026 di ibu kota Cina.
Kunjungan kenegaraan ini mencakup agenda formal di Great Hall of the People serta kunjungan ke situs warisan dunia Kuil Langit. Meski diagendakan secara megah, Washington memiliki ekspektasi rendah terhadap hasil perundingan terkait tekanan kepada Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua bulan.
Pemerintah Amerika Serikat berupaya membujuk Beijing agar menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran sebagai pembeli minyak terbesar dari negara tersebut. Selain itu, tekanan domestik di AS meningkat setelah survei menunjukkan lebih dari 60 persen warga tidak menyetujui kebijakan perang Iran yang dijalankan Trump.
Analisis mengenai posisi tawar kedua pemimpin negara disampaikan oleh pengamat kebijakan luar negeri dari University of Hong Kong, Alejandro Reyes. Ia menilai Trump sedang mencari pencapaian signifikan di bidang diplomasi internasional.
"Trump agaknya lebih membutuhkan Tiongkok daripada sebaliknya," kata Alejandro Reyes, profesor yang fokus pada kebijakan luar negeri Tiongkok di University of Hong Kong.
Reyes menambahkan bahwa presiden Amerika Serikat tersebut memerlukan validasi atas kinerjanya dalam menjaga stabilitas politik global di tengah berbagai ketegangan yang terjadi.
"Dia membutuhkan semacam kemenangan kebijakan luar negeri, kemenangan yang menunjukkan bahwa dia berupaya memastikan stabilitas dunia dan bukan sekadar mengganggu politik global," lanjut Alejandro Reyes.
Persoalan sensitif mengenai kedaulatan Taiwan turut menjadi agenda pembicaraan setelah adanya tekanan dari Kongres AS agar Trump menyetujui paket senjata senilai 14 miliar dolar AS. Saat dimintai keterangan oleh jurnalis di Gedung Putih, Trump tidak memberikan jawaban lugas mengenai komitmen penjualan senjata tersebut.
"Presiden Xi Jinping ingin kami tidak melakukannya dan saya akan membahas hal tersebut. Itu merupakan salah satu dari banyak hal yang akan saya bicarakan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Terkait kekhawatiran adanya eskalasi militer serupa invasi di wilayah lain, Trump memberikan pandangannya mengenai potensi konflik di Selat Taiwan.
"tidak berpikir itu akan terjadi," ujar Donald Trump.
Ia meyakini bahwa hubungan pribadinya dengan Xi Jinping dapat meminimalisir risiko konfrontasi bersenjata di wilayah Pasifik tersebut.
"Saya pikir kita akan baik-baik saja. Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Xi Jinping. Dia tahu saya tidak ingin itu terjadi," sambung Donald Trump.
Namun, dalam kesempatan yang sama, Trump juga memberikan perbandingan mengenai posisi kedua negara saat ini secara geografis maupun geopolitik.
"sangat, sangat jauh," cetus Donald Trump.
Trump juga merefleksikan perubahan hubungan antara kedua kekuatan ekonomi besar tersebut dibandingkan dengan masa kepemimpinan para pendahulunya.
"Dulu kita dimanfaatkan selama bertahun-tahun oleh presiden-presiden sebelumnya dan sekarang kita baik-baik saja dengan Tiongkok," kata Donald Trump.
Ia menutup pernyataannya dengan harapan akan adanya rasa saling menghormati antara dirinya dengan pemimpin Tiongkok dalam negosiasi mendatang.
"Saya sangat menghormatinya dan semoga dia menghormati saya," ujar Donald Trump.
Di sisi lain, perwakilan legislatif Amerika Serikat dari Partai Demokrat mendesak pemerintah untuk tetap teguh pada komitmen terhadap keamanan Taipei. Senator Jeanne Shaheen memimpin sekelompok politisi dalam memberikan peringatan tertulis kepada presiden.
"Kami mendesak Anda dan tim Anda untuk memperjelas bahwa dukungan Amerika untuk Taiwan tidak dapat diganggu gugat," tulis para senator tersebut.
Para senator juga menegaskan pentingnya memisahkan kepentingan ekonomi dari isu pertahanan strategis di kawasan tersebut.
"dukungan Amerika untuk Taiwan tidak bisa dinegosiasikan," tegas para senator tersebut.
Merespons dinamika ini, Kementerian Luar Negeri Taiwan menyatakan akan tetap memperkuat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Sementara itu, pihak Beijing melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun menekankan pentingnya diplomasi tingkat tinggi untuk menciptakan stabilitas.
"Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam semangat kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan, untuk memperluas kerja sama, mengelola perbedaan, dan menyuntikkan lebih banyak stabilitas dan kepastian ke dunia yang bergejolak dan saling terkait," kata Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina.
Ketegangan tetap membayangi pertemuan ini setelah Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap 12 entitas yang diduga memfasilitasi pengiriman minyak Iran. Beijing merespons langkah tersebut dengan memberlakukan 'blocking statute' yang melarang perusahaan Tiongkok mematuhi sanksi sepihak dari Washington.
Delegasi Trump dalam kunjungan ini juga menyertakan sejumlah petinggi korporasi teknologi seperti Elon Musk dan CEO Apple Tim Cook. Fokus utama dari kehadiran para eksekutif ini adalah upaya untuk meningkatkan volume perdagangan antara kedua negara di tengah ketidakpastian ekonomi global.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·