GREBEG Besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat saat momentum Idul Adha tahun ini akan terselenggara dua kali. Hal itu lantaran kubu dua putra mendiang Pakubuwono XIII, yakni KGPH Mangkubumi dan KGPH Puruboyo atau yang kini bernama Sri Susuhunan Pakubuwono Empat Belas, masing-masing akan menggelar tradisi tahunan tersebut pada hari yang berbeda. Keduanya sama-sama mengklaim tahta Pakubuwono XIV.
Dari kubu Puruboyo menjadwalkan penyelenggaraan Grebeg Besari pada Rabu, 27 Mei 2026. Adapun kubu Mangkubumi akan menggelar tradisi itu pada Kamis, 28 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Informasi tentang penyelenggaraan Grebeg Besar dari kubu Mangkubumi dikonfirmasi Ketua Lembaga Dewan Adat, GRAy Koes Moertiyah Wandansari melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo, Senin, 25 Mei 2026.
"Keraton Surakarta Hadiningrat akan menyelenggarakan Upacara Adat Grebeg Besar Dal 1959 pada Kamis Kliwon, 28 Mei 2026 pukul 09.00 WIB di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat," ujar Koes Moertiyah.
Adik Pakubuwono XIII yang karib disapa Gusti Moeng itu menjelaskan pelaksanaan Grebeg Besar sengaja digelar pada hari kedua setelah Idul Adha versi pemerintah atau bakda kedua. Menurut Gusti Moeng, tradisi waktu pelaksanaan ini sudah berjalan turun-temurun sejak masa pemerintahan Pakubuwono XII.
"Memang sejak Sinuhun Pakubuwono XII, pelaksanaan dipilih pada hari kedua agar sentana dan abdi dalem pada hari pertama dapat bersama keluarganya," kata Gusti Moeng.
Sementara itu, Mangkubumi mengajak seluruh sentana dalem, abdi dalem, dan masyarakat luas untuk menjadikan momentum Grebeg Besar ini sebagai sarana memperkuat rasa syukur dan persatuan.
Gusti Moeng menegaskan tradisi itu bukan sekadar seremoni budaya biasa, melainkan bentuk syiar spiritual sekaligus sedekah Karaton kepada rakyatnya. "Grebeg Besar bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bagian dari syiar spiritual, sedekah Karaton kepada rakyat, serta simbol eratnya hubungan antara Karaton Surakarta dengan masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan prosesi Grebeg Besar Dal 1959 nanti, Keraton Solo akan mengarak sepasang gunungan beserta perlengkapan lainnya. Kirab akan berjalan dari Karaton menuju Masjid Agung Solo dengan dikawal ketat oleh prajurit Karaton, sentana dalem, dan abdi dalem.
"Dua gunungan utama yang dikirab memiliki filosofi tersendiri. Untuk Gunungan Jaler (Laki-laki) berisi hasil bumi mentah sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Gunungan Estri (Perempuan) berisi makanan kering siap saji sebagai simbol kelimpahan rezeki," kata Gusti Moeng.
Setibanya di Masjid Agung Solo, kedua gunungan akan didoakan terlebih dahulu oleh pemuka agama Karaton. Usai doa bersama, Gunungan Jaler akan langsung diperebutkan oleh masyarakat di halaman masjid. Sedangkan Gunungan Estri akan dibawa kembali ke Kori Kamandungan untuk diperebutkan di halaman Karaton.
"Selain kirab Grebeg Besar, Karaton Surakarta juga akan melaksanakan ritual jamasan atau pembersihan pusaka-pusaka sakral Karaton sehari sebelum prosesi berlangsung. Beberapa pusaka yang dijamasi antara lain Meriam Nyai Setomi dan Songsong Kyai Brawijaya," kata Gusti Moeng.
Selain itu, Grebeg Besar tahun ini menyuguhkan aksi sosial. Pihak Karaton bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surakarta untuk menggelar layanan pemeriksaan kesehatan gratis. "Pelayanan kesehatan gratis tersebut akan berlangsung di Pagelaran Karaton Surakarta mulai pukul 08.30 WIB," kata Gusti Moeng.
Sementara rencana penyelenggaraan Grebeg Besar oleh kubu Puruboyo disampaikan oleh Pengangeng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer saat ditemui wartawan di Keraton Surakarta, 19 Mei 2026.
Gusti Timoer mengatakan Grebeg Besar bakal dilaksanakan pada hari H Idul Adha atau pada Rabu, 27 Mei 2026. Menurutnya, rangkaian acara Grebeg Besar sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
Ya kalau kegiatannya kan sudah seperti biasa nggih, kalau di Keraton Grebeg Iduladha itu seperti biasa gunungan, kemudian dibawa ke Masjid Besar, didoakan baru kemudian dibagikan. Nah, hanya ini kan kebetulan yang mengadakan pertama kali diadakan pada masa takhtanya Paku Buwono XIV, Grebeg digelar pada tanggal 27 Mei nanti," kata Gusti Timoer.
Disinggung mengenai pemilihan tanggal, ia menyebut sudah sesuai perhitungan penanggalan Jawa dan Keraton. Gusti Timoer mengatakan pemilihan tanggal tersebut tidak ada keterkaitan dengan gelaran Grebeg Besar yang akan digelar oleh Gusti Tedjowulan.
"Gini, tadi kan sudah diatur, sudah dijelaskan oleh Gusti Dipo (Gusti Dipokusumo) bahwa acara-acara Grebeg, Gunungan, Suro, itu adalah acara yang cara keraton yang itu adalah perintah Raja. Dhawuh Dalem kan begitu tadi ngendika-nya, perintah, apa mau ya, acara dhawuh Dalem. Nah, dhawuh Dalem-nya itu dari Raja. Makanya saya malah bingung, kalau Gusti Tedjo bikin itu terus rajane sapa (siapa)? Kan Gusti Tedjo bukan Raja," ucap Gusti Timoer.
Sementara itu, Panembahan Agung Keraton Surakarta, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan telah memerintahkan untuk menjaga ketertiban umum dan mengutamakan kerukunan bersama. Oleh karena itu, unsur-unsur yang mengganggu pelaksanaan kegiatan tradisi dan budaya, serta revitalisasi keraton harus ditindak tegas.
"Berkaitan dengan Gerebeg Besar Idul Adha Tahun Dal 1959, Gusti Tedjowulan sudah mengadakan Rapat Koordinasi dengan Keluarga Besar dan aparatur Pemerintah Kota Surakarta pada Rabu, 12 Mei 2026, untuk memastikan ketertiban umum dan kerukunan bersama," ungkap Kanjeng Pakoenegoro selaku juru bicara Gusti Tedjowulan.
Pakoenegoro mengungkapkan Gusti Tedjowulan telah memberikan arahan agar Gerebeg Besar Idul Adha berjalan lancar, aman nyaman, damai, dan jangan lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. "Keluarga besar Keraton Surakarta harus bersatu. Tidak boleh ada gesekan dari mana pun. Jangan mengadakan Gerebek Besar Idul Adha sendiri-sendiri," ungkap Pakoenegoro menyampaikan pesan Gusti Tedjowulan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·