Tumpukan sampah yang terbawa banjir pernah memenuhi halaman rumah Sri Setuni (44 tahun) pada 2006. Air setinggi lutut orang dewasa membuat perempuan asal Kudus itu resah.
Dari peristiwa tersebut, ia mulai berpikir bahwa sampah tak bisa terus dibiarkan menjadi masalah.
Sri Setuni merupakan warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ibu tiga anak itu merupakan Ketua Bank Sampah Sumber Pangan Sejati sekaligus Manajer Pengelolaan Sampah di TPS Jati Kulon.
"Saya belajar dari musibah banjir. Permasalahan sampah harus ditangani, akhirnya saya mencoba langkah kecil dengan membuat bank sampah," katanya kepada kumparan, Selasa (28/4).
Pada 2012, ia menginisiasi pembentukan Bank Sampah Jati Asri. Bank sampah tersebut beroperasi di lingkup tingkat RT. Beranjak tahun 2016, Bank Sampah Jati Asri mulai dikelola oleh Pemdes Jati Kulon, lalu berubah nama menjadi Bank Sampah Sumber Pangan Sejati.
Pada 2012 itu, dia mulai memilah sampah satu per satu. Sampah yang layak jual seperti kardus, botol plastik, aluminium, logam, dan atom dijual ke pengepul. Sementara sampah yang tidak layak dijual seperti bungkus makanan, bungkus minuman, bungkus sachet kopi, dan bungkus minyak goreng dikelola di bank sampah.
"Kalau menjelang Lebaran, nasabah yang menabung sampah, kami cairkan uangnya. Jadi sampah yang dikumpulkan setelah ditimbang itu ada nilai rupiahnya," ucapnya.
Keinginannya mengurangi sampah mendorongnya untuk membuat kerajinan dari sampah. Ia mengumpulkan berbagai sampah seperti bungkus makanan, bungkus minuman, sachet kopi, bungkus deterjen, dan lainnya.
Sri menyulap sampah tersebut melalui berbagai tahapan. Sampah bungkus makanan itu dipilah terlebih dahulu, kemudian direndam, dicuci hingga bersih, dan dikeringkan. Setelah itu, sampah dilipat, dianyam, hingga dijahit.
Produk perdananya pada 2012 berupa tas dan dompet dengan harga Rp 2.500 sampai Rp 200 ribu. Pembeli produknya saat itu hanya warga sekitar desa.
Memasuki 2014, produknya semakin variatif. Terlebih pada tahun itu ia mulai bisa menjahit. Alhasil, produknya bertambah banyak, meliputi tempat pensil, tas laundry, dan goodie bag. Pesanannya datang dari Kabupaten Kudus, Kota Semarang, hingga Jakarta.
Pada 2014 itu, ia memperluas pasar secara online melalui Facebook dengan nama Sri Collection. Produknya dijual seharga Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Ia juga kerap mengikuti pameran untuk memasarkan produknya.
"Memasuki tahun 2015 semakin banyak pesanan yang datang berkat ikut pameran dan expo dari berbagai instansi. Alhamdulillah orderan semakin banyak," terangnya.
Kelebihan produk kerajinan dari bahan daur ulang sampah miliknya yakni memiliki kualitas yang bagus, produknya unik, dan harganya terjangkau. Ia sempat mendapatkan berbagai pesanan dari sejumlah instansi seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Dinas PKPLH Kudus, Bappeda Kudus, serta menantu Joko Widodo yang juga Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, pernah memesan produk tas ransel dan tempat stopmap di tempatnya.
Produknya kini bisa dibeli secara online melalui akun Instagram @Seruni Handmade. Selain itu, produk juga dipasarkan di akun TikTok dengan nama yang sama. Produk kerajinan tangannya juga melibatkan enam orang perempuan yang bertugas melipat hingga menjahit.
Inovasi yang dilakukan Sri Setuni menyulap sampah menjadi barang kerajinan berbuah manis. Menurutnya, sampah di TPS Desa Jati Kulon dapat berkurang hingga 20 persen.
Lebih lanjut, pihaknya juga berkolaborasi dengan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Pada 2024, BLDF memberikan mesin insinerator untuk membakar sampah anorganik.
Semenjak ada mesin insinerator itu, tumpukan sampah di TPS Jati Kulon yang awalnya empat truk per hari kini hanya satu truk per pekan. Menurut Sri, pengurangan jumlah sampah ini cukup signifikan.
Selanjutnya, untuk sampah organik di Desa Jati Kulon, penanganannya juga dibantu oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Setiap harinya ada 50 tong sampah organik hingga 70 ton sampah organik yang diangkut oleh truk Kudus Asik. Pengambilan sampah dilakukan setiap hari pukul 08.00 WIB.
Kepeduliannya terhadap lingkungan juga ditunjukkan dengan mengolah sampah organik menjadi eco enzyme. Ia memanfaatkan sampah organik sisa masakan di dapur. Eco enzyme ini dapat digunakan untuk mengepel lantai dan mencuci baju.
"Saya jual eco enzyme ini per liter seharga Rp 30 ribu. Penjualannya online dan offline. Pembeli berasal dari Kudus, Demak, dan Blora," ujarnya.
Sri Setuni juga mengisi berbagai kegiatan peduli lingkungan, di antaranya menjadi pemateri pelatihan daur ulang sampah, sosialisasi soal pengolahan sampah, dan menjadi guru ekstrakurikuler di sekolah untuk melatih siswa membuat kerajinan dari sampah.
Kegiatan sosial juga dilakukannya. Ia bekerja sama dengan Disdikpora Kudus pada 2018 menggalang dana untuk korban gempa bumi Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Ia bersama Disdikpora Kudus dan siswa sekolah mengumpulkan sampah untuk dijual ke pengepul. Hasilnya, terkumpul uang sekitar Rp 18 juta untuk disumbangkan kepada korban gempa bumi Palu-Donggala, Sulawesi Tengah.
"Ke depannya saya akan terus berupaya untuk mengurangi sampah. Semoga bisa konsisten sehingga bisa mewujudkan Kudus bebas sampah," imbuhnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·