Apresiasi investor global dan Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap stabilitas ekonomi Indonesia pada Jumat (17/4/2026) dipandang sebagai landasan strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. Dilansir dari Bloombergtechnoz, capaian tersebut dinilai mencerminkan keberhasilan sinergi kebijakan moneter dan fiskal pemerintah di tengah ketidakpastian kondisi global.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa pencapaian stabilitas saat ini bukan merupakan hasil akhir bagi pemerintah. Ia menilai pengakuan internasional harus menjadi dorongan untuk memperluas ruang kebijakan dan meningkatkan kemampuan negara dalam membiayai pertumbuhan secara mandiri serta berkelanjutan.
"Stabilitas adalah titik awal, bukan titik akhir. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita mengubah stabilitas itu menjadi kekuatan—kekuatan untuk membiayai pertumbuhan, memperluas ruang kebijakan, dan memperkuat kedaulatan ekonomi kita di dunia yang tidak lagi sederhana," ucap Fakhrul.
Narasi kebijakan fiskal yang selama ini hanya berfokus pada kedisiplinan angka seperti defisit di bawah 3 persen dianggap perlu ditingkatkan. Fakhrul menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk memberikan kejelasan mengenai arah pembiayaan jangka menengah dan panjang untuk merespons kebutuhan pasar global saat ini.
"Selama ini, kita terlalu nyaman dengan narasi disiplin fiscal dengan defisit di bawah 3%, rasio utang terjaga. Itu penting, tapi belum cukup. Pasar hari ini ingin tahu lebih dari itu: what is the funding story? dan how credible is the path forward?," jelas Fakhrul.
Transparansi dalam pengelolaan risiko serta rincian komposisi sumber dana menjadi faktor yang sangat dihargai oleh pasar internasional. Menurut Fakhrul, kejelasan arah strategi pembiayaan menjadi sangat krusial agar Indonesia memiliki daya saing yang lebih kuat dibandingkan negara lain dalam menghadapi fragmentasi ekonomi.
"Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, pasar tidak hanya menghargai disiplin, tetapi juga kejelasan arah. Kita perlu mulai lebih eksplisit, dari mana sumber pembiayaan pertumbuhan akan datang, bagaimana komposisinya, dan bagaimana risiko-risikosya dikelola," ujar Fakhrul.
Ketergantungan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat dalam pembiayaan global juga menjadi sorotan karena menimbulkan beban biaya yang cukup besar. Upaya membangun alternatif pendanaan melalui skema local currency settlement dinilai sebagai langkah agresif yang harus segera diambil oleh pemerintah.
"Ketergantungan pada sumber pendanaan global berbasis mata uang kuat seperti dolar menciptakan biaya yang tidak kecil. Di sinilah pentingnya Indonesia mulai lebih agresif membangun alternatif, termasuk melalui skema local currency settlement," kata Fakhrul.
Salah satu peluang likuiditas yang bisa dimanfaatkan adalah mata uang dengan imbal hasil rendah seperti offshore renminbi (CNH). Fakhrul berpendapat bahwa akses terhadap berbagai kantong likuiditas global yang lebih murah dapat dilakukan melalui inovasi instrumen keuangan serta penguatan kerja sama bilateral.
"Ke depan, kita harus mulai melihat bahwa tidak semua pembiayaan harus mahal. Likuiditas global itu tidak homogen. Ada kantong-kantong likuiditas dengan biaya lebih rendah, dan kita harus bisa mengaksesnya, baik melalui kerja sama bilateral maupun desain instrumen keuangan yang lebih inovatif," tambah Fakhrul.
Penguatan kemitraan internasional diharapkan mampu memberikan akses nyata terhadap modal di luar sekadar membangun kepercayaan publik. Pada era fragmentasi ekonomi, strategi akses modal yang terlihat jelas dan terpercaya oleh pasar menjadi kunci utama keunggulan kompetitif sebuah negara.
"Kita sedang masuk ke era di mana capital access saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah capital strategy. Dan strategi itu harus terlihat, harus terkomunikasikan dengan jelas, dan harus dipercaya pasar," pungkas Fakhrul.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·