Ekonomi Indonesia Kuartal I&2026 Diprediksi Tumbuh 5,54 Persen, Meski Ada Gejolak Global

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta, 13 April 2026 – Di tengah gejolak ekonomi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, perekonomian Indonesia pada kuartal pertama 2026 diperkirakan tetap menunjukkan ketahanan. Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut mencapai 5,54 persen.

Angka proyeksi tersebut sedikit melampaui median konsensus Bloomberg yang berada di angka 5,25 persen, dan hanya selisih tipis dari target pemerintah sebesar 5,55 persen. Menurut Fithra, perbedaan ini disebabkan oleh pendekatan analisis yang memperhitungkan efek basis rendah pada kuartal I-2025.

“Proyeksi kami berada sedikit di atas konsensus karena kami secara eksplisit memasukkan efek basis rendah tahun lalu,” ujar Fithra, dikutip dari Bloomberg Technoz, Senin (13/4).

Secara keseluruhan, kinerja ekonomi di awal tahun ini dinilai masih kuat. Fithra memprediksi pertumbuhan sepanjang tahun 2026 mencapai 5,37 persen. Capaian ini mencerminkan keseimbangan antara dorongan dari program pemerintah, seperti Danantara dan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta tekanan dari dinamika geopolitik global.

Dalam skenario terberat sekalipun, ketika tensi geopolitik meningkat tajam, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih bisa bertahan di atas 5 persen yakni sekitar 5,18 persen. Fithra menilai proyeksi sejumlah lembaga internasional seperti World Bank dan OECD yang lebih rendah belum sepenuhnya mencerminkan potensi percepatan implementasi program pemerintah pada paruh kedua tahun ini.

“Percepatan implementasi Danantara akan menjadi faktor penting yang belum sepenuhnya tercermin dalam proyeksi lembaga internasional,” jelasnya.

Meski demikian, Fithra mengingatkan bahwa capaian kuartal I-2026 tidak boleh dianggap sebagai tanda percepatan struktural ekonomi. Jika efek basis rendah dikeluarkan, pertumbuhan riil Indonesia dinilai berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen.

Di sisi lain, terdapat sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Dalam kajian tersebut, tercatat adanya tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat. Hal ini terlihat dari penurunan penjualan mobil pada Maret yang terkontraksi hingga 13,8 persen secara tahunan, serta pertumbuhan kumulatif kuartal I yang hanya mencapai 1,7 persen.

Indeks Penjualan Ritel Modern (MSI) juga melambat menjadi 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 7,5 persen. Penurunan juga terjadi pada tingkat tabungan kelompok berpendapatan rendah, yang terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Kepercayaan konsumen juga dilaporkan menurun selama tiga bulan berturut-turut. Pelemahan juga terlihat pada beberapa sub-komponen PMI.

“Semua indikator ini mengarah pada melemahnya daya beli riil, yang berpotensi tertutupi oleh angka PDB secara keseluruhan,” kata Fithra. Ia menekankan bahwa kuartal II-2026 akan menjadi fase krusial, terutama dengan adanya risiko normalisasi pasca-Lebaran. Pemerintah diharapkan dapat menahan tekanan eksternal melalui program yang ada, namun tren penurunan tabungan menjadi perhatian utama.

“Transisi ke kuartal II akan menjadi titik penentu. Risiko terhadap daya beli harus diwaspadai, terutama dari kelompok rentan,” pungkasnya.