Ekonomi Indonesia Tertekan Lonjakan Harga Minyak Global dan Rupiah

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tekanan eksternal berat pada akhir kuartal I-2026 akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah pada Rabu (15/4/2026). Perang yang telah berlangsung selama tujuh pekan tersebut mendorong harga minyak Brent sempat menembus level US$118 per barel.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, gejolak harga energi global ini berdampak langsung pada nilai tukar rupiah yang kini tertahan di level Rp17.000-an per dolar AS. Cadangan devisa nasional juga dilaporkan tergerus hingga US$3,7 miliar, sehingga menyulitkan mata uang Garuda untuk kembali ke level Rp16.000-an.

Meskipun pemerintah berkomitmen tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, Bank Dunia telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen. Revisi ini didasarkan pada potensi membengkaknya defisit fiskal akibat beban subsidi energi yang meningkat tajam.

Data Bank Indonesia pada awal April 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret turun ke angka 122,9 yang merupakan posisi terendah dalam lima bulan terakhir. Penurunan ini diikuti oleh pelemahan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang terkoreksi menjadi 107,9 dari sebelumnya 110,7 pada Februari.

Sektor otomotif turut terdampak dengan penurunan penjualan mobil wholesale sebesar 24,58 persen secara bulanan. Konsumsi rumah tangga menunjukkan perubahan perilaku di mana masyarakat cenderung menahan pembelian barang tahan lama dan beralih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok saja.

Sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga mulai mengalami perlambatan signifikan. Kredit pada sektor ini terkontraksi 0,6 persen secara tahunan pada Februari 2026, dengan kredit modal kerja anjlok hingga 4,9 persen berdasarkan data Bank Indonesia.

Laporan Badan Pusat Statistik Maret 2026 mencatat adanya kenaikan biaya hidup yang dipicu inflasi energi sebesar 9,08 persen. Kelompok pengeluaran esensial seperti perumahan, air, dan listrik mengalami lonjakan harga sebesar 7,24 persen di tengah melandainya inflasi inti domestik.

Fenomena "makan tabungan" atau pengurangan simpanan untuk kebutuhan sehari-hari terlihat dari menyusutnya Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan. Pada Februari, total DPK tercatat sebesar Rp8.082 triliun, menurun dibandingkan posisi Januari yang mencapai Rp8.112 triliun.

Sektor manufaktur Indonesia turut mengalami kontraksi yang ditunjukkan oleh penurunan PMI Manufaktur dari S\&P Global ke level 50,1 pada Maret dari sebelumnya 53,8. Penurunan ini dipicu oleh lemahnya permintaan ekspor baru dan peningkatan biaya produksi akibat gangguan rantai pasok global.