Pengiriman minyak mentah dari Kuwait dilaporkan terhenti sepenuhnya pada April 2026 menyusul pecahnya peperangan di kawasan Asia Barat. Penurunan drastis volume ekspor hingga menyentuh angka nol ini terjadi seiring tertutupnya jalur perdagangan utama akibat konflik militer di Teluk Persia.
Berdasarkan data dari perusahaan pemantau pengiriman minyak independen, TankerTrackers.com, Inc., kondisi ini merupakan peristiwa pertama sejak berakhirnya Perang Teluk pada 1988. Penghentian operasional pengiriman tersebut dipicu oleh eskalasi pertempuran yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran di wilayah strategis tersebut.
“Selama April 2026, Kuwait mengekspor 0 barrel minyak mentah untuk pertama kalinya sejak Perang Teluk I berakhir,” tulis akun TankerTrackers.com, Inc. pada Sabtu (2/5/2026) lalu.
Kelumpuhan aktivitas ekspor ini memberikan dampak signifikan mengingat posisi Kuwait sebagai produsen minyak terbesar ke-10 di dunia. Dilansir dari Money, komoditas minyak mentah dan hasil olahannya merupakan tulang punggung ekonomi negara tersebut dengan kontribusi mencapai 95 persen dari total ekspor nasional.
Hambatan distribusi terjadi karena penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi kapal tanker keluar dari kawasan Teluk. Selain gangguan jalur laut, infrastruktur keamanan di daratan juga terancam setelah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait menjadi sasaran serangan rudal Iran.
Sebelum konflik meletus, Kuwait mencatatkan kinerja ekspor yang kuat dengan Korea Selatan, Jepang, China, dan Amerika Serikat sebagai pasar utama. Data CEIC menunjukkan bahwa pada tahun 2025, volume ekspor Kuwait sempat mencapai puncaknya di angka 1,329 juta barel per hari.
| 2026 (April) | 0 |
| 2025 | 1,329 |
| 2024 | 1,175,8 |
| 2023 | 1,567,5 |
| 2022 | 1,878,8 |
| 2016 | 2,125 |
Ketiadaan aktivitas ekspor pada April 2026 memutus tren positif produksi negara yang berbatasan langsung dengan Irak, Arab Saudi, dan Iran tersebut. Hingga saat ini, stabilitas pasar minyak dunia masih bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·