Emmanuel Macron Pastikan Pengerahan Pasukan ke Selat Hormuz Koordinasi dengan Iran

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa pengerahan kekuatan militer Prancis ke wilayah Selat Hormuz tidak akan pernah dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Macron pada Senin (11/5/2026) di Nairobi sebagai respons atas peringatan keras dari Teheran terkait kehadiran armada asing di jalur perairan strategis tersebut.

Prancis berupaya mendukung stabilitas navigasi laut seiring dengan pergerakan kapal induk Charles de Gaulle menuju Laut Merah bagian selatan. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detikcom, langkah diplomasi ini diambil guna menghindari eskalasi konflik di kawasan Teluk yang kian memanas akibat militerisasi jalur pelayaran vital.

"Pengerahan pasukan Prancis tidak pernah dipertimbangkan," tegas Macron saat berbicara dalam konferensi pers di Nairobi bersama Presiden Kenya William Ruto.

Pemimpin Prancis tersebut menekankan pentingnya kerja sama regional dalam menjaga keamanan distribusi komoditas melalui jalur laut. Hal ini dilakukan demi menjamin kelancaran arus logistik internasional yang melewati kawasan tersebut.

"siap siaga" untuk membantu memungkinkan dilanjutkannya kembali lalu lintas maritim di Selat Hormuz "dalam koordinasi dengan Iran," tegas Macron kembali.

Sikap Prancis ini muncul setelah adanya ancaman langsung dari pejabat tinggi di Teheran. Pemerintah Iran keberatan dengan keberadaan kapal perang dari negara-negara Barat yang dianggap justru memicu krisis baru di wilayah kedaulatan mereka.

"respons tegas dan segera" dari Angkatan Bersenjata Teheran, tulis Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran, Kazem Gharibabadi, dalam pernyataan via media sosial X memperingatkan bahwa setiap pengerahan angkatan laut Prancis dan Inggris di dalam atau di sekitar Selat Hormuz akan menghadapi.

Gharibabadi menilai kehadiran armada militer asing merupakan bentuk provokasi yang tidak diperlukan. Ia menganggap dalih perlindungan pelayaran hanya menjadi alasan untuk memperkuat pengaruh militer di luar kawasan.

"kapal-kapal perusak dari luar kawasan" di dekat Selat Hormuz dengan dalih melindungi pelayaran, merupakan "eskalasi krisis" dan "militerisasi jalur perairan vital," sebut Gharibabadi dalam kritikannya.

Sebelumnya, pergerakan armada laut Prancis telah terdeteksi sejak awal Mei. Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis mengonfirmasi bahwa gugus tugas kapal induk mereka telah menyelesaikan transit melalui Terusan Suez pada Rabu (6/5) pekan lalu.

"menaksir lingkungan operasional regional sebagai antisipasi aktivasi" misi maritim multinasional yang diusulkan, menurut Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis, pengerahan di dekat perairan Teluk itu dimaksudkan untuk.

Operasi militer ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas bagi negara-negara mitra dalam menghadapi situasi darurat di laut. Pemerintah Prancis menyatakan bahwa kehadiran mereka bertujuan untuk menciptakan ruang dialog dan pengumpulan sumber daya pertahanan bersama.

"menawarkan opsi tambahan untuk keluar dari krisis guna memperkuat keamanan kawasan" dan membantu memfasilitasi pengumpulan sumber daya militer dari negara-negara mitra, tambah pihak Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis.