Manado (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada laporan aktivitas gunung api periode 1-15 April 2026 menyebutkan suara gemuruh masih terdengar dari kawah Gunung Karangetang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.
"Kondisi visual pada kawah utama (selatan) tidak teramati adanya kejadian guguran/erupsi efusif, tinggi asap maksimum mencapai 150 meter di atas puncak, suara gemuruh kadang terdengar di pos pengamatan gunung api," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan diterima di Manado, Selasa.
Kondisi kawah utara (kawah dua) teramati asap putih sedang hingga tebal tinggi maksimum 400 meter di atas puncak, sinar api pada kolom asap teramati setinggi maksimum 20 meter, suara gemuruh kadang terdengar lemah hingga kuat.
Aktivitas erupsi efusif berupa aliran lava ke arah selatan menuju Kali Sumpihi sejauh 200-1.200 meter, kondisi ini masih berada di dalam jarak rekomendasi.
Kegempaan dalam periode tersebut, menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan minggu sebelumnya, gempa embusan meningkat dengan intensitas masih tinggi.
Baca juga: PVMBG: Waspadai peningkatan aktivitas Gunung Slamet
Kementerian ESDM berharap, berbagai pihak terkait mewaspadai awan panas guguran di mana kubah lava lama masih ada di puncak yang sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan lava keluar.
Karakteristik awan panas guguran Gunung Karangetang terjadi dari penumpukan material lava yang gugur atau longsor.
Selain itu, ia mengatakan pentingnya mewaspadai luncuran lava dari kawah utara menuju arah barat daya-selatan serta mewaspadai kejadian lahar saat hujan deras di puncak.
Berdasarkan hasil analisa dan evaluasi secara menyeluruh hingga 15 April 2026, tingkat aktivitas vulkanik Gunung Karangetang pada Level II (Waspada) dengan rekomendasi disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini.
Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan beraktivitas dan mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utama (selatan) dan kawah dua (utara), serta 2,5 kilometer pada sektor barat daya dan selatan dari kawah utama.
Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang dianjurkan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang.
Sepanjang periode tersebut, terekam 424 kali gempa embusan, 15 kali tremor harmonik, 109 kali tremor nonharmonik, tiga kali gempa hybrid/fase banyak, 15 kali gempa vulkanik dangkal, 81 kali gempa vulkanik dalam, tiga kali gempa tektonik lokal, 18 kali gempa terasa pada skala I-III MMI dan 939 kali gempa tektonik jauh.
Baca juga: Badan Geologi: Aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih tinggi
Baca juga: Geologi: Aktivitas Gunung Lewotobi di NTT meningkat dalam sepekan
Pewarta: Karel Alexander Polakitan
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·