FBI Selidiki Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Nuklir Serta Antariksa AS

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Biro Investigasi Federal (FBI) mengumumkan penyelidikan atas rangkaian kematian dan hilangnya sedikitnya 10 individu yang terkait dengan penelitian nuklir serta antariksa Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Penyelidikan ini bertujuan mencari potensi keterkaitan sistematis di balik kasus-kasus sensitif tersebut.

Dilansir dari Detik iNET, otoritas federal akan berkolaborasi dengan Departemen Energi, Departemen Perang, dan penegak hukum guna menelusuri latar belakang para pakar yang memiliki akses ke informasi ilmiah strategis ini. Gedung Putih pekan lalu mengonfirmasi koordinasi antarlembaga federal setelah Presiden Donald Trump menyebut fenomena ini sebagai masalah serius.

Komite Pengawas DPR AS yang dikuasai Partai Republik turut meluncurkan penyelidikan mandiri terkait laporan hilangnya para ilmuwan tersebut. Ketua Pengawas DPR James Comer menegaskan bahwa pihaknya menaruh perhatian besar pada isu ini sebagai prioritas lembaga.

"Sangat kecil kemungkinannya ini kebetulan," kata Ketua Pengawas DPR James Comer, seorang anggota Partai Republik.

Comer menambahkan bahwa terdapat kekhawatiran mendalam di tingkat legislatif mengenai dampak dari hilangnya para ahli tersebut. Penyelidikan difokuskan pada potensi ancaman terhadap kedaulatan informasi negara.

"Kongres sangat mengkhawatirkan hal ini. Komite kami menjadikannya salah satu prioritas kami saat ini karena kami memandangnya sebagai ancaman keamanan nasional," ujar James Comer.

Di sisi lain, Anggota DPR James Walkinshaw dari faksi Demokrat memberikan perspektif berbeda mengenai signifikansi jumlah korban terhadap program nuklir nasional. Meski mendukung langkah penyelidikan, ia meragukan adanya motif terorganisir di balik peristiwa-peristiwa tersebut.

"AS memiliki ribuan ilmuwan dan pakar nuklir. Ini bukanlah jenis program nuklir yang berpotensi dapat terdampak signifikan oleh musuh asing hanya dengan menargetkan 10 individu," sebut James Walkinshaw.

Data kronologis menunjukkan rangkaian peristiwa bermula pada 30 Juli 2023 dengan wafatnya Michael David Hicks, peneliti spesialis komet dan asteroid di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA. Putrinya, Julia Hicks, mengungkapkan bahwa ayahnya sempat mengalami kendala kesehatan sebelum meninggal dunia.

"Saya tidak mengerti hubungan antara kematian ayah saya dan para ilmuwan hilang lainnya. Saya tak bisa menahan tawa mendengarnya, namun di saat yang sama, ini mulai menjadi serius," ujar Julia Hicks.

Daftar individu yang hilang mencakup pakar kedirgantaraan Monica Reza yang hilang pada Juni 2025 di hutan Los Angeles, serta pensiunan Marsekal Muda AU William Neil McCasland yang menghilang dari Albuquerque pada 27 Februari. McCasland dilaporkan meninggalkan seluruh perangkat komunikasi dan kacamata resep di kediamannya.

Kasus lainnya melibatkan staf Laboratorium Nasional Los Alamos, yakni Melissa Casias dan Anthony Chavez, yang menghilang di New Mexico pada pertengahan 2025. Di Massachusetts, Profesor Nuno F.G. Loureiro dari MIT tewas ditembak di kediamannya pada Desember 2025.

Spekulasi juga mencuat menyusul kematian Matthew James Sullivan, mantan perwira intelijen AU, pada 2024. Anggota DPR Eric Burlison menyoroti kejanggalan waktu kematian Sullivan yang terjadi sesaat sebelum jadwal pemberian kesaksian resmi.

"Ia dijadwalkan datang untuk sebuah wawancara. Dalam waktu dua minggu, ia secara mencurigakan bunuh diri," ungkap Eric Burlison.

Pihak keluarga Amy Eskridge, ilmuwan yang meninggal pada 2022, meminta publik untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam spekulasi berlebihan. Mereka menekankan bahwa kondisi medis kronis seringkali menjadi faktor yang diabaikan oleh khalayak dalam kasus-kasus seperti ini.

"Orang harus menyadari para ilmuwan juga meninggal dan (jangan) membesar-besarkan hal ini," imbau pihak keluarga Amy Eskridge.