Film Nobody Loves Kay Angkat Kisah Kairi ONIC

Sedang Trending 1 jam yang lalu

FILM Nobody Loves Kay mengangkat perjalanan inspiratif atlet esport kebanggaan ONIC, Kairi, dari titik terendahnya hingga menjadi bintang esport. Proyek ini merupakan buah kerja sama antara rumah produksi Migunani Cinema Cult, Qun Films, Folago Pictures, dan ONIC, dengan dukungan distribusi dari Visinema Pictures.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Nobody Loves Kay tidak lahir secara tiba-tiba. Menurut produser Faisal Hibatullah, ide pembuatan film panjang ini bermula dari kesuksesan sebuah proyek iklan berupa film pendek tentang Kairi. Iklan tersebut mendapatkan respons yang sangat positif dan menyentuh hati banyak orang, termasuk pemilik organisasi esport ONIC.

"Awalnya karena kami sempat dapat proyek bikin iklan film pendek tentang Kairi, dan itu lumayan booming. Owner ONIC bercerita bahwa setelah menonton film pendeknya, istriku sampai menangis. Akhirnya diputuskan untuk membuat versi film panjangnya," ujar Faisal dalam konferensi pers pada Senin, 11 Mei 2026.

Keputusan untuk berkolaborasi dengan ONIC didorong oleh keinginan untuk melakukan cross target audience. Tim produksi berharap film ini bisa memperkenalkan dunia film kepada para gamers. Sebaliknya, memperkenalkan dunia esport serta inspirasi di baliknya kepada penonton film luas.

Simbol Perjuangan Tanpa Hak Istimewa

Salah satu poin utama yang diangkat dalam film ini adalah latar belakang Kairi yang inspiratif. Produser Zhafran Solichin mengungkapkan bahwa timnya melakukan riset mendalam mengenai masa lalu sang pro player asal Filipina tersebut. Terungkap bahwa sebelum mencapai puncak kariernya, Kairi pernah berada di titik terendah.

"Kami telusuri si Kairi itu katanya pernah jadi pemulung. Iya beneran, pernah koleksi kaleng-kaleng gitu di Filipina terus dijual demi dia bisa main game gitu," ujarnya.

Bagi tim produksi, kisah Kairi adalah bukti bahwa mimpi memiliki banyak bentuk. Di masa lalu, orang tua mungkin hanya memandang profesi seperti dokter sebagai cita-cita yang menjanjikan. Namun, melalui film ini, mereka ingin membuktikan bahwa hal yang sering dianggap skeptis seperti bermain game pun bisa menjadi jalan menuju kesuksesan jika ditekuni dengan keyakinan.

Debut Bernardus Raka dan Tantangan Produksi

Film Nobody Loves Kay juga menjadi tonggak sejarah bagi Bernardus Raka yang menjalani debutnya sebagai sutradara film panjang. Meski merasa gugup, Raka mengaku sangat bersemangat karena mendapatkan dukungan penuh dari para produser dan jajaran pemain yang suportif.

"Ini film panjang pertamaku. Rasanya sangat nervous karena karyaku akan ditonton di layar lebar, tapi proses syutingnya sangat menyenangkan. Rasanya seperti main dengan teman setiap hari," kata Raka.

Dari sisi produksi, Nick selaku produser menjelaskan bahwa tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara visi idealis sutradara muda dengan realitas produksi di lapangan. Nick menekankan bahwa tugasnya bukan untuk membatasi eksperimen Raka, melainkan mencari solusi agar energi dan pesan jujur dari sutradara bisa tersampaikan kepada penonton.

"Tantangannya menghadapi visi Raka sebagai sutradara muda yang berani bereksperimen dan jujur memang kalau dilawan dengan realitas produksi, tugas saya sebagai produser bukan membatasi itu tapi justru mencari solusi sebaik mungkin," ujarnya.

Meski berlatar dunia esport, film Nobody Loves Kay bukan hanya soal permainan. Film ini menggali konflik yang lebih universal, yakni persahabatan dan keluarga. Bima Azriel sebagai pameran utama, didukung dengan kehadiran Rey Bong, Aurora Ribero, Joshia Frederico, Ariyo Wahab, Melati Putri Rahel Sesilia, Basboi, Dewa Dayana, dan Anton E. Girgis. Film Nobody Loves Kay dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 4 Juni 2026.

ANDARA ANGESTI